Monday, 24 October 2011

#23 The Juice Is Worth To Squeeze


You just need a girl. A girl that kinda definitely cute. Someone who can make you laugh. But also needs someone who’s gonna push you. Someone who’s gonna make him do things you never thought you could do. Like stripping in the middle of the street...

 

It is about finding  that one thing you really care about. That one special thing that means more to you than anything else in the world. And when you find her, you fight for her. You risk it all. You put her in front of everything, your future, your life...all of it. And maybe the stuff you do to help her  isn’t  so clean. You know what? It doesn’t  matter. Because in your heart, you know, that the juice is worth to squeeze.

-the girl next door-

#22

penasaran - pandji pragiwaksono feat. ichsan akbar

with you, mong: august, 10th 2008. 

Thursday, 20 October 2011

#21




Yang paling perlu pertolongan di antara kita adalah anak-anak…


Saya ingin kembali ke masa lalu…
Saya ingin benar-benar ada dalam jiwa
Yang memahami tulisan-tulisan saya sendiri
Tentang gambaran diri sendiri
Tentang ketidakpastian dan ketidakabadian
Tentang kesegalaan


Untuk cita rasa estetika, religiositas, dan budi pekerti
: musik


Saya cenderung menginginkan segala yang tidak mekanis

#20 Persoalan adalah...


Kita tidak harus berdiam di suatu tempat
Kita harus bermekaran di berbagai tempat
Tidak harus juga kita terjebak dalam situasi yang
Dangkal, sempit, hektik, patetik, dramatik

Persoalan adalah bagian dari hidup yang wajar-wajar saja…

#19 Kangen


Kau tak mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku tungku tanpa api

WS. Rendra - Kangen

#18 Smashing Pumpkins - 1979





I don't even care to shake these zipper blues
And we don't know
Just where our bones will rest
To dust I guess
Forgotten and absorbed to the earth below

Smashing Pumpkins - 1979 
 

Sunday, 16 October 2011

#17 The best relationship is...

The best relationship is when you two can act like lovers and best friends. It’s when you have more playful moments than serious moments. It’s when you can joke around, have unexpected hugs, and random kisses. It’s when you two give each other that specific stare and just smile. It’s when you’ll rather chill inside to watch movies, eat junk food, and cuddle than go out all the time. It’s when you’ll stay up all night just to settle your arguments and problems. It’s when you can completely act yourself and they can still love you for who you are.

#16 Routinity

It tears me apart that we are going to come to an end soon, because the divide of a damn routinity...

Thursday, 13 October 2011

#15 Darn It

I miss you so damn much much much, mong...

Sunday, 9 October 2011

#14 Serang, Sabtu, 1 Oktober 2011


Siang itu, saya mengendarai mobil milik kakak saya. Baru saja tiba dari Bandung. Adik nenek dari pihak ayah akan kami jemput. Tapi, setibanya di Serang, kakak saya langsung berkumpul bersama rekan-rekan kerja untuk survey lapangan, di Anyer, Banten, sehingga saya berkendara sendiri pulang ke rumah.
Di perempatan jalan, perasaan angkuh yang terasa. Saya terlihat seperti eksekutif muda pemilik mobil sekaligus anak manja yang berkendara mobil pungutan dari orang tua. Kontradiktif. Di saat yang sama, saya berada di luar mobil sambil melihat diri, mengagumi diri. Betapa tidak menguntungkannya perasaan angkuh seperti itu. Di sisi lain, saya adalah manusia miskin lahir batin.
Saya menyesal merasa angkuh.Saya mengutuk diri. Betapa kenyataan yang terlihat dari luar kaca mobil serba transparan adalah muslihat belaka.

You can imagine how really fake this unreal seen!

#13 Cause We Don't Want One

Loneliness is underrated
Don't be stupid
Propose is somekind of
Full time sleeping, full time working
and full time spending the rest of your life
So you can't be unleash
to give the best of your quality

Cause we don't want one
doesn't mean you don't believe
that we could enjoy being free and independent
I think you'll know it when you feel it

We live in the best beautiful planet in space
Or you decide which planet you want to live in outer space

Cause we don't want one
doesn't mean you don't believe
that we don't want one ever till last
I think you'll know it when you feel it

Love is somekind of
Full time sleeping, full time working
and full time spending the rest of your life
So you can't be unleash
to give the best of your quality

#12 Tragedi Bom Solo dan Cirebon



Mengapa sampai saat ini masih saja ada mahluk Tuhan yang juga kejam terhadap sesamanya yang sama-sama secara jelas memuja di hadapan Tuhan, di rumah Tuhan?
Kontradiksi yang aneh sekali.
Begitukah manusia? Atau, begitulah manusia?

#11 Kearifan


Bijaksana itu percaya
Dan karena percaya,
yang dipercaya semakin sadar bahwa ia dipercaya,
lalu membuktikan diri untuk dapat dipercaya.
Inilah kearifan.
Jauh dari desertir,
melarikan diri dari persoalan

#10 Simply


Kita berbeda,
maka itu kita bebas memilih
untuk setia atau tidak terhadap suara dambaan dan rintihan hati nurani

#9 Royalti


Setelah kuliah kemana, ya?

Kita mendapatkan uang hari ini karena proses masa lalu, bukan karena pekerjaan hari ini. 
Itu semua penghargaan untuk kita 
yang setia pada dunia mimpi
kala pendidikan dasar dan tinggi 
lalu mempertanggungjawabkan jutaan mimpi itu kepada sesama

*dari pertemuan singkat di pelataran Atep, Fasa Unpad, mengenai kemana jalan pascakampus. Terima kasih, Gepeng, kawan sekaligus mentor dan penggiat teater atas diskusi singkat yang tetap hebat

Friday, 7 October 2011

#8 Sewaktu Sebatang Rokok

Saya terpukul.
Di saat-saat akhir seperti ini, mengapa sisi emosional saya bergejolak dari dasar diri yang paling dalam. Saya goyah. Perahu layar yang terombang-ambing ombak dan angin badai di tengah samudera. Ya saya ini. Sehelai daun kering yang terhempas laju angin dari mobil yang melintas. Ya saya ini.
Sebenarnya sudah berkali-kali saya tanamkan dalam diri, bahkan saya seringkali memberikan peringatan, atau wejangan, atau nasihat mengenai rasa kepercayaan  di dalam diri, dalam pertemanan, dalam waktu dua orang kawan sejoli yang sedang mengalami krisis hubungan dan kepercayaan, ataupun dalam waktu memesan makanan di warung kopi di seberang jalan.
 Tapi, saat ini saya terpukul untuk kesekian kali.
Pelatihan mabim Origami 2011 sudah akan berakhir. Sejak tahun kedua kuliah, hingga 2 minggu menjelang sidang skripsi seperti ini, saya masih gandrung terhadap kegiatan mahasiswa, apalagi seperti kegiatan penerimaan mahasiswa baru sekaligus pelatihan untuk kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru seperti ini. Padahal bersamaan ada dengan tanggung jawab-tanggung jawab yang super ketat dengan deadline.
Saya paham mengapa kegiatan itu selalu intresan untuk saya. Jodoh memang tidak ada yang tahu selain Sang Maha Tahu. Melalui kegiatan penerimaan mahasiswa baru, saya menemukan jodoh hakiki untuk saya, s-a-y-a  s-e-n-d-i-r-i. Lalu perjodohan beriringan muncul lagi-muncul lagi, dengan seni, teater, sastra, film, kawan, sahabat, kekasih, cinta, keluarga, sesama, alam, dan kehidupan. Pertemuan-pertemuan itu melapangkan sungai hati dan jiwa. Pertemuan-pertemuan itu menyulut percikan-percikan kembang api di kala perayaan ulang tahun di tengah malam hutan gelap gulita
Dalam pelatihan selalu ada simulasi. Dalam simulasi selalu ada evaluasi. Dalam evaluasi selalu ada perbaikan. Dalam perbaikan selalu ada penerapan kembali. Begitu seterusnya kenyataan yang berputar. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup bukankah merupakan dialektika yang terjadi berulang-ulang melalui evolusi yang sangat lambat dengan kejutan-kejutan revolusi setiap saat?
Mudah-mudahan ini hanya perasaan saya saja yang seringkali merasa sentimental dan emosional dalam saat-saat terakhir seperti ini. Tetesan hujan kenangan-kenangan muncul kembali hingga mengalir deras ke sungai, danau, teluk, dan lautan melalui selokan-selokan kecil penuh plastik-plastik. Semuanya serba gentayangan. Apa yang telah saya lakukan sedari saya kecil hingga kini? Berguna apa? Ataukah merugi belaka?
Mengenai “kepercayaan” yang kali ini terhunus di depan mata. Seorang kakak bersama-sama berdialog dengan adiknya dalam memecahkan bayangan-bayangan. Dengan sama-sama membangun  kesabaran, kakak bersama adiknya menghadapi pertanyaan mengenai ketidakjelasan dan keragu-raguan menghadapi hari ujian, hari tujuan, hari pelaksanaan.
Lewat kenyataan-kenyataan yang pernah dilalui lebih dahulu dari seorang adik, seorang kakak menyampaikan pengalaman-pengalamannya dengan tidak mengurangi rasa kepercayaan dan penghargaan akan kemampuan-kemampuan si adik. Kakak mengharapkan performa maksimal dari adiknya. Kakak menyesuaikan percakapannya dengan kemampuan dan kemauan si adik. Kakak waspada terhadap kelebihan ataupun kekurangan ukuran baju yang diperuntukkan dipakai oleh si adik. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya performa maksimal. Kakak menyayangi adiknya, begitupun adik terhadap kakaknya. Namun, realita terjadi bukan tanpa problema dramatik, patetik, dan mungkin juga yang hektik.
Perasaan diri adik yang masih kuncup membenarkan dan mengingatkan juga akan kebutuhan limpahan air dari kelopak si kakak. Adik belum apa-apa sudah tersengat lebah yang kepagian berburu madu dibanding kawanan lebah-lebah di belakangnya. Terlalu kuncup untuk dihisap. Terlalu kuncup untuk dihisap. Terlalu kuncup untuk dihinggap. Namun, kuncup jugalah yang akhirnya akan mekar menjadi bunga yang serba kokoh dalam keindahannya, serba perkasa dalam keharumannya, serba menarik dalam jangkauan kelopak-kelopak mekarnya.
Pengalaman seperti ini, mengikut dengan istilah yang acap dikatakan Romo Mangun, saya ingin menyebutnya sebagai situasi pascadiri. Setelah berpasang-pasang musim dilalui, akhirnya pohon jati dapat ditebang juga. Setelah kering kerontang tenggorokan, akhirnya adzan magrib berkumandang juga. Setelah angka 9 di setiap perhitungan, akhirnya muncul angka 0 juga.  
                Sewaktu sebatang rokok, punggung saya merekat di dinding, sementara pelatihan dan simulasi tetap berjalan. Saya melayang-layang. Saya terpukul-pukul. Saya ditebang. Saya kering kerontang. Saya di angka 0. Situasi pascadiri ini mudah-mudahan banyak membawa kebaikan dan keberkahan. Amiin…

*Untuk mabim Origami 2011: Yakinlah akan berjalan lancar.

Wednesday, 5 October 2011

#7 Rahim Indera

Subuh lembayung
Dan pijar-pijar lampu
Menyentuh
Genangan hujan di atap mobil
Satu-satu

Kehidupan melahirkan kebebasan melahirkan kejujuran melahirkan ketulusan melahirkan kesabaran melahirkan keindahan melahirkan kerinduan melahirkan cinta melahirkan kepercayaan melahirkan kesucian melahirkan kesementaraan
segala

Tuesday, 4 October 2011

#6 Selera Musik

Saya baru menyadari alasan kenapa dalam 6 tahun terakhir ini selera musik saya berpindah ke genre musik bertempo lambat, seperti yang dibawakan oleh Daniel Sahuleka, Chet Baker, Curtis Fuller, Tompi, dan prajurit jazz lainnya. Saya juga mendengarkan genre post rock, dan musisi-musisi seperti Pink Floyd, Dream theater, Toe, The Trees and The Wild, Glenn Hansard, Frau, atau bahkan musik-musik indie balada Indonesia, seperti Mukti-mukti, Ary Juliyant, Ary Tretura, Egy Fedly, Rizal Abdulhadi, Deu Galih, Ganjar Noor, dan lain-lain.
Saya memang bukan seorang yang memiliki kemampuan lebih dalam mencipta maupun menilai sebuah karya, simfoni, melodi, dan nada harmonis. Namun, musik bertempo pelan dalam genre apapun dirasa mampu membuat pendengarnya, penikmatnya lebih menghargai sebuah proses daripada hasil akhir. Menikmati dengan hati yang penuh dan merelakan diri terbuai oleh detil-detil instrumen dan vokal yang terangkum dalam sebuah lagu.
Bukan berarti saya membagi-bagikan orang-orang pecinta musik garis keras tidak menghargai proses atau lebih menghargai hasil akhir yang berarti sikap praktis, instan, dan cepat saji. Musik tempo keras, begitupun genre-genre musik yang lain, perlu apresiasi dengan  syarat penilaian dan penghargaan akan keseluruhan karya. Sebuah karya tidak boleh tidak serius digarap. Dalam cipta lagu, dari inspirasi dan imajinasi; lirik; keharmonisan nada, vokal, instrument; rekaman; editing; mastering; copying, dan lain sebagainya, mesti tekun dijalani. Justru, dalam pada ini saya mengakui bahwa orang-orang yang menyukai musik garis keraslah pemerhati musik yang jujur dengan cara mereka sendiri. Lihat saja musik-musik underground yang hingga kini masih ada meskipun terdiaspora (meminjam peristilahan paskakolonial yang kebetulan menjadi metode pendekatan skripsi kawan saya, Anita Abrianti) atau terpinggirkan.
Kembali ke masa kini, ke kondisi selera musik (saya khususkan di Indonesia gemah ripah loh jinawi subur makmur aman tentram damai ini) orang-orang.  Musik mainstream saat ini adalah yang membawa cita-cita luhur cinta, yang berbicara mengenai cinta yang tidak akan ada pangkalnya. Ia begitu suci tak terbantahkan, begitu perkasa tak terkendali, begitu lihai membuai, dan begitu jauh dari nalar.
Tapi, sayangnya… Ya, sayangnya, musik mainstream saat ini yang membawa cita-cita luhur cinta, kurang menelusuri lorong-lorong lirik cinta yang dalam. Bukankah hidup kita menempel erat dengan cinta? Dan, bukankah cinta mengajarkan kedalaman rasa, hati, dan pemikiran melalui hal-hal remeh maupun berat dalam hidup? Lirik yang tercipta malah justru terdengar picisan, rendah, hemat. Bahkan ada saja lagu yang hanya memiliki 2 atau 3 kata dalam liriknya. Tetapi bukankah hemat itu baik? Hemat pangkal kaya. Ya, kaya yang berujung pada tuntutan kesenangan belaka, dan sederhana. Ini soal lain lagi. Sederhana. Tugas sakral untuk sederhana yang sederhana, bukan sederhana yang sengaja disederhanakan sebagai jalan pintas menghindari kerepotan, kedalaman batin, dan kepenuhan hati pikiran.
Sekali lagi, sayangnya… Ya, sayangnya, musik mainstream kala ini cenderung praktis, instan, hemat, sederhana, dan tidak ingin repot. Memang praktis mengandung makna kemudahan. Siapa orang yang tidak ingin mencari jalan kemudahan? Siapa juga yang mau repot-repot? Tapi, jalan kemudahan harus disadari untuk menghindari diri dari keterbelakangan moral. Kemudahan harus dijauhkan dari belaka rasa senang saat titik hasil sudah tercapai. Kemudahan dijalani untuk lebih menikmati proses, bukan tujuan…
Oh, musik mainstream…
Oh, industri musik Indonesia…

#5 Putih

Kelana murid yang setia
Setali searah leluasa
Guru bersama angin nan lembut kesayangan
Tegas suka rela
Tulus yang kesayangan
Putih awan di angkasa tinggi

#4 Naif Menutup Diri

Saat kebanyakan orang lalu lalang, kamu duduk dengan dagu tertopang di lutut. 
Tanganmu menjangkau sempurna di kaki. 
Pernyataanmu tanpa kata. 
Kamu tega membiarkan dirimu terlihat lucu. 
Menyepi di tengah keramaian? 
Ah, sungguh naïf menutup diri terhadap yang lain sementara kita berada dalam dunia yang punya banyak cara mengumumkan diri kita. 
Kamu seperti barang kuno dalam etalase yang memburam. 
Untuk apa? 
Ayo, ayo. Ikut tepuk tangan. 
Nanti ku beri tahu suatu rahasia tentang rumput. 
Mereka selalu pesta-pora merayakan bulan purnama…

#3 Merah, Hitam, Putih

Saya salah seorang pecinta, pecandu, dan peminum kopi yang setia. Saya juga penyuka warna-warna polos dan sederhana; hitam, putih, merah.
Hitam adalah gejolak yang sangat dalam. Ia perkasa menuntut warna-warni. Ia juga perkasa terhadap petunjuk-Nya. Hitam memberikan kedamaian dalam bertindak sepenuh hatinya. Ia kokoh dalam merasa, ia teguh dalam berpikir.
Putih adalah awan-awan di angkasa tinggi, seorang pembelajar yang bebas dan pembebas gerak kelananya, dan yang setali-searah angin pendidik sebagai bakti cinta suci terhadap Sang Abadi. Putih setia suka rela pada jutaan warna yang seringkali sesuka selera mewarnai dunia.
Merah adalah aliran darah yang tak kenal henti. Pembawa susu hidup sejak nafas berhembus hingga kembalinya. Pengembara yang serba membara…
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com