Friday, 23 December 2011

#34 Enjoy

Just like an old process to capture a cynical life fragmen. 
Do the jazz. 
Enjoy the journey...

#33

Thursday, 22 December 2011

#32 Sekitar Kita dan Dunia yang Terus Berputar


Minggu, 2 Oktober 2011

Kisah kartun klasik “Tom n Jerry” memang tak dapat dipungkiri selalu menyulut gelak tawa. Jika saja seseorang tidak dapat tertawa ataupun tersenyum ketika menonton serial kartun tersebut, saya rasa seseorang itu sedang mengalami kondisi perasaan dan kejiwaan yang teramat kalut.
                “Tom n Jerry” ternyata tidak begitu saja menyuguhkan dagelan semata. Dibalik serial anak-anak tersebut terkandung makna-makna hakiki tentang naluri yang dimiliki oleh mahluk. Kucing dan tikus tak pernah berhenti kelahi dan selisih. Kedua binatang itu tak pernah lelah mencari akal dan usaha saling mengelabui.
                Kebudayaan setempat selalu melahirkan kearifan dan pengertian yang beragam mengenai suatu pandangan terhadap alam dan lingkungannya. Sebagian dalam kebudayaan Barat memiliki pandangan mengenai kucing dan anjing yang selalu bermusuhan, serupa juga hubungan antara kucing dan tikus. Dalam kebudayaan Timur, misalnya Jepang, memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal itu karena binatang yang lazim bermusuhan hingga akhir zaman di Negara matahari terbit itu adalah kera dan anjing.
                Namun naluri yang sudah mutlak dimiliki mahluk bisa jadi masalah yang kritis apabila dihadapkan pada kenyataan keberadaan kita, manusia. Kucing adalah mahluk yang umumnya dekat dengan manusia sebagai binatang peliharaan yang menggemaskan dan penawar gejolak-gejolak penat keseharian si manusia. Dalam kisah kartun ini, diwajarkan bahwa binatang peliharaan bagi manusia pun dapat pula memiliki sisi-sisi keburukan dibalik segala keistimewaannya. Sebaliknya, tikus kotor dan menjijikan justru diberi peran istimewa dan terpuji yang berbalik dengan kenyataan.
                Berangkat dari realita di sekitar kita dan dunia yang selalu berputar, segala hal harus diputarbalikkan dengan tujuan menebar benih-benih kebaikan dalam diri dan sekitar.

Wednesday, 21 December 2011

#31 Usai Hujan


 Awal petang usai hujan
Titik jenuh perjalanan
Suara masa lalu memanggil
Yang terdengar gigih dan getir

Kalender menyindir nyinyir
Tentang buku tebal
Yang ditukar wisuda
Rasa girang tak terkira

Semacam gelak sementara

Sekarang aku disini
Tempat “katanya menjadi “mungkin”
Tapi ternyata mentari sembunyi
Di balik dusta yang abadi

Lirik yang dicipta oleh Adinda Luthvianti, istri Mas Hanafi. Sedikit saya gubah ke dalam lagu. Dan, voila!, sudah jadi lagu tapi belum direkam hehehehe.
Studio Hanafi - 19 Desember 2011

#30 Pangkal Yang Layu Dan Pupus


Representasi utopia
Lemparan batu pada kolam
Gemuruh kehampaan dalam riak-riak di sekelilingnya

Di antara ruang-ruang kisah yang tercipta
Jedi sekedar sisa-sisa ruang kosmik luar angkasa tanpa udara
Merangkak menuju kepunahan
Tertusuk dalam klimaks tanpa kesimpulan

Sunday, 11 December 2011

#29 Menjala di Air Keruh atau Melawan Arus Bengawan


Kalau kita hanya realis belaka dan hanya berpijak pada pragmatika data faktual yang terjadi, maka pasti kita akan ikut tenggelam dalam rawa-rawa korup tanpa tepi, serba l’exploitation de l’homme. Tetapi jika kita lari dari realita dan menjadi idealis murni, kita akan menguap kabur, hilang.

Orang pasti bilang, kita harus kompromi. Tetapi, kompromi tanpa karakter serba oportunis (apalagi: ikut yang menang saja) justru akan membuat kita menjadi bola yang ditendang kian kemari sampai saatnya kita bocor tak tertolong, dibuang di lubang sampah. 

Apa ikut sajakah menjala di air keruh, mumpung serba realis? Ataukah melawan arus bengawan menjadi paria dengan istri, sakit, dan anak-anak kacau?
-YB Mangunwijaya dalam artikel Les Belles De Nuit, di dalam kumpulan artikel-essay “Puntung-puntung Rara Mendut”.

#28 Mencari Hal yang Jauh Lebih Berbicara


Mencari kebenaran di belakang kedok-kedok, sama juga dengan mencari kedok dibalik kebenaran: hampir mustahil seperti melihat telapak kaki dari langit. Tapi bukan tidak mungkin…
Fakta dan kebenaran adalah lain.
Yang dilihat secara nyata adalah fakta. Tetapi, biasanya orang-orang berkedok.
Bila saja kedok-kedok itu ditanggalkan…
Adalah kebenaran bahwa kita tidak mengenali lagi diri kita masing-masing.
Dan berilah selalu restu pada jiwa untuk mencari hal yang jauh lebih berbicara daripada sekian rumusan mimbar, seminar, dan pidato…

Thursday, 8 December 2011

#27 Simfoni Kata


Saya sangat benci menghitung waktu
Saya juga sangat benci melihat halaman-halaman dalam kertas-kertas bagian artikel, essay, koran, buku, atau bacaan-bacaan lain
Saya jadi sering merasa tidak sabar dan tidak menikmati sepenuh hati simfoni kata per kata yang ada
Mendengar jarum jam yang berdetik adalah mengundang yang naïf
dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang magis
Padahal,
Banyak yang harus dihadapi dengan kelapangan hati dan sikap bersungguh-sungguh.
Padahal, saya sendiri yang menentukan tarian pena dan aksi panggung…

#26 Pantai Canti


Di Pantai Canti
Lesapkan ragu dan duka
Di Pantai Canti
Bersama Ayah, Ibu, dan Sanak Saudara

Di Pantai Canti
Kita menyusup ke tebing-tebing tinggi
Menanggalkan lara di pangkal akar pohon, di antara tebing, di antara sepi

-Pantai Canti, Kalianda, Lampung Selatan

#25 Merak-Bakauheuni-Pantai Canti, Kalianda, Lampung Selatan








#24 Di Buritan Kapal


 Aku di buritan kapal
Memandang jauh ke lautan
Menjauh dari tanah keramaian
Meninggalkan riak-riak gelisah

Sepasang musim lalu
Cinta itu memang masih ada
Bersama tawa yang menyelinap diam-diam ke angkasa
Bersama air mata yang sembunyi-sembunyi mengering ke hutan

Aku di buritan kapal
Masih dengan keyakinan bahwa esok juga mungkin kita terperangkap
Dalam jala-jala kerinduan
Terkekang oleh pagar-pagar kesetiaan

Maka ‘kan ku rapatkan hati ini
Dengan hembusan nafas yang dalam
‘kan ku eratkan candu ini
Dengan air laut yang tenang

Terbang-terbanglah, sayang
Ke angkasa asa dan sayang
Hinggap-hinggaplah, sayang
Ke ranting cinta dan keabadian
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com