Friday, 24 February 2012

#40 Yang Muda Kini


Jalanan Jakarta saat itu tepat betul dengan kepadatan: saat jam kantoran usai. Saya menggunakan jasa bus TransJakarta menuju halte transit UKI, bersambung menuju halte Cawang untuk kemudian ikut dalam rombongan penumpang kereta listrik commuter dari stasiun Cawang menuju stasiun Depok Baru.
            Sesak dimana-mana. Di setiap perempatan, di dalam bus, di trotoar, di stasiun, di pelabuhan, di bandara, di mana-mana di segala ruang kota Jakarta yang paling sudut dan luput sekalipun. Penuh sesak.
            Saya berdiri di pojok kiri belakang di dalam bus. Ada 5 lelaki muda, 5 tahun lebih muda usia dari saya kiranya, membicarakan tugas-tugas kuliah, pertemanan, kekasih hati, dan tentang gadget. Saya mendengarkan dan ikut menikmati. Namun, saya merasa terganggu sampai pada tema pembicaraan yang terakhir. Ya, tentang gadget.
            Gadget yang saya mengerti adalah hasil-hasil perkembangan teknologi elektronik dan terkomputerisasi yang dirangkum ke dalam sebuah alat dalam bentuk yang sedemikian rupa. ‘Elektronik’ dan ‘terkomputerisasi’ sendiri memiliki makna serba pintar dan serba cepat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan: jarak, perhitungan, penulisan, visual yang statis maupun dinamis, informasi, komunikasi, media, hiburan, dan seterusnya, dan seterusnya.
            Keterbatasan-keterbatasan sesungguhnya adalah selalu mengenai perlawanan antara kemampuan-kemampuan dan mimpi-mimpi.
            Dalam menjangkau jarak yang jauh, kita dihadapkan pada kemampuan untuk melangkah, berjalan, berlari, mungkin juga melesat terbang ke tujuan. Dalam memecahkan perhitungan angka-angka, kita menderetkan jari-jari tangan, mau tak mau, hingga jumlah yang tak tentu untuk mendapatkan nilai yang dianggap valid. Dalam menulis, kita memerlukan tinta imajinasi yang tercerai-berai di cakrawala untuk ditimpakan ke atas halaman-halaman maksud. Dalam visual, kita menghirup udara warna-warna, bentuk-bentuk, garis-garis, titik-titik, menginapkan fenomen-fenomen tersebut dalam paru-paru dan jantung, lalu mengedarkannya ke seluruh tubuh, menghembuskan abstraksi embun-embun di depan kaca jendela dunia. Dalam mendengar, menghirup, dan merasa, mesti selalu diasah demi menghindari kekebalan mendengar, menghirup, dan merasa sesuatu. Dalam informasi, dalam media, dalam hiburan, dengan persenjataan kemampuan-kemampuan, kita menggerus mimpi-mimpi.
            Saya berusaha terus mencuri dengar. Jika seandainya mereka mengetahui tindakan yang tak sepantasnya itu, saya bisa sangat mungkin diadili. Tentulah dalam negara kita yang menjunjung tinggi peraturan dan undang-undang ini, besok hari dapat dipastikan saya tengah meringkuk bersama kerumitan dan perenungan panjang di dalam bui. Atau, kedua daun telinga saya telah mulai membusuk di dalam plastik di bak sampah, berjejalan, tercecer dan hampir hanyut ke sungai jika saja petugas kebersihan yang hatinya begitu terpuji tak mengacuhkannya. ‘Kan ku tulis namamu dalam hati di ruang yang terpuji, wahai pahlawan, wahai petugas kebersihan.
            Paling tidak, saya tidak dihukum mati karena tuntutan menguping pembicaraan pribadi. Juga paling tidak, karena saya pun masih termasuk angkatan muda seperti mereka, saya, toh, akan membela diri lantaran masih ikut berusaha melestarikan perkembangan dan pergaulan angkatan muda zaman kini agar tidak dicap ‘kuper,’ ‘gak gaul,’ ‘gak keren.’ Diadili secara batin.
            Tetapi tetap tak dapat meski saya bersikeras menangkapnya. Entah karena kandungan makanan bergizi dalam tubuh mereka sehingga begitu banyak istilah-istilah, angka-angka, dan bahasa-bahasa baru yang mampu mereka sampaikan, atau, karena kafein dan MSG yang terlalu banyak mengalir dalam darah saya sehingga saya kepayahan menangkap apa yang mereka bahas.
            Baru beberapa hari kemudian setelah merenung dan googling, saya mengerti pembicaraan mereka: gadget terbaru, software game terbaru, episode game terbaru, item game terbaru, voucher game terbaru, kabar terbaru komunitas game, pokoknya segala yang serba baru, serba kini.
            Seperti rumput yang tak pernah menyadari bahwa dirinya telah meninggi dan mendesak udara, kehidupan cepat sekali berubah. Evolusi yang bergerak pelan seksama ternyata terdiri dari revolusi di sana-sini yang tak berhingga. Juga tanpa disadarinya, lebih dari setengah bagian dari dirinya terhempas ke udara, melayang terjerembab ke tanah, tercerabut dan terinjak-injak. Jenis hiburan pun serupa. Rasa-rasanya zaman kanak dan remaja yang awam teknologi baru saja berlalu. Aliran darah ini minta ampun kocar-kacir tak tertolong saat dulu berhadapan dengan alat-alat ajaib computer, gameboy,walkman, dan lainnya. Rasanya sungguh berbeda dengan bau lumpur di pematang sawah, sengatan matahari di layang-layang, bercak darah jemari yang tersayat di ban-ban mobil kulit jeruk bali. Masih juga panas rasanya, terciprat minyak goreng waktu memasak ikan hasil memancing sore hari.
            Saya berada di antara dua dimensi hiburan: pertama adalah dimensi hiburan yang happening, yang popular, dan yang yang serba kini; kedua adalah hiburan yang kuno, yang renta, dan yang terlupakan. Dimensi hiburan yang pertama diikuti oleh kekinian yang, tidak mungkin tidak, sedang laku di pasaran. Dimensi hiburan yang kedua diikuti oleh ketidaklakuan karena sudah kuno, tidak lagi laku di pasaran.
Mudah-mudahan pembagian dua dimensi di atas hanyalah pembagian semata karena pada dasarnya ada hal yang lebih mendesak dan darurat di  dalam dimensi hiburan ini, yaitu, terdapat refleksi kuat mengenai kecenderungan jati diri dan pandangan seseorang melalui cara seseorang menghibur keadaan dirinya di tengah kesibukan-kesibukannya. Jati diri, diri yang asli, cerminan sifat yang paling kuat di dalam diri; pandangan, cakrawala, cerminan alam pikiran yang ada dan masuk ke dalam diri dan berpengaruh terhadap perubahan-perubahan diri.
Angkatan muda itu adalah angkatan yang berada dalam keadaan paling rentan dan kritis dalam penentuan hari depan. Saat ini kita perlu mencoba menafikan fungsi pasar bukan dalam arti yang sebenarnya. Dimensi hiburan yang pertama adalah hiburan yang lebih banyak menawarkan hal-hal siap saji, praktis,  instan, hingar-bingar, konsumerisme, hedonisme, individualisme dan kebelakaan melenakan lainnya.  Melalui pendirian mall-mall, gadget-gadget yang tumbuh subur, industri musik yang dibanjiri gaya yang selangit tapi sedikit musikalitas dan kedalaman lirik, juga sajian konten acara televisi drama romantik dengan skenario-skenario minim riset sosial antropologi, misalnya. Memilih adalah hal yang paling sulit ternyata. Tapi, apa kabar negara ini, hari ini, jika dalam masa-masa perang kemerdekaan, perang revolusi hingga perang reformasi 1998 lalu, angkatan muda tidak menjalani hiburan dalam dimensi yang kedua tadi? Pada masa yang telah lewat, mungkinpun hal-hal yang sekarang telah dianggap kuno adalah hal-hal yang paling modern. Tapi, nyatanya angkatan muda yang sekarang telah menjadi tua melahirkan kekuatan terhadap kerisauan massa—bukan hanya kegalauan pribadi, kelugasan menghadapi keberagaman kearifan lokal sebagai akar kebangsaan, sekaligus ketegasan melawan ketertindasan. Memang memilih selalu hal yang paling sulit, tapi bukankah menentukan pilihan di saat-saat yang paling menentukan dalam hidup adalah sangat perlu? Maka itu dimensi hiburan sebagai realita sosial yang erat dengan angkatan muda perlu segera diselamatkan dari pasar yang melenakan karena bagaimanapun realita sosial adalah pendidikan. Sementara itu, pendidikan tak lain dari stamina dan daya hidup. Kehidupan sesungguhnya ialah merasa benar-benar hidup dalam kehidupan dan menghidupi kehidupan itu sendiri.
Belum lagi tentang dunia maya, internet. Mustahil angkatan muda tidak berjejalan dalam internet karena saat ini saya masih merasa yakin bahwa posisi piramida penduduk belum terbalik. Saya lebih merasa sebagai mahluk asing dari planet lain yang terpaksa singgah ke bumi untuk mencari kehidupan yang lebih layak dari planet dimana saya berasal: yang over palsu, yang over polusi, juga yang over populasi. Dunia maya agaknya harus juga diikuti entah sebagai kebutuhan hidup, pengakuan diri, gaya hidup, atau hiburan pengisi waktu luang belaka. Jelas saya masih dalam misi penyamaran sebagai manusia saat saya berpikir bahwa berat sekali usaha yang harus  dilakukan untuk kembali ke planet asal. Padahal, saya merindu kampung halaman begitu dalam.
Di dunia maya sering didapati pengakuan, pembuktian, pengejawantahan jati diri yang palsu. Realita se-mengerikan itu jelas tidak salah dan tidak akan dapat dihindari. Kecuali, ya, kecuali kita kembali pada proses memilih yang popular atau yang yang kuno tadi. ‘Maya’ disejajarkan dengan hal yang hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dl angan-angan; khayalan; yang palsu. Namun bukan tidak mungkin sejarah memang perlu dicatat menurut keterangan yang ‘maya’, yang ‘palsu’, agar nantinya didapati suatu angkatan muda yang sedikit demi sedikit merasa muak dengan kepalsuan sejarah, agar nantinya didapati suatu angkatan muda yang sedikit demi sedikit merasa pusing, lalu mual, lalu sedikit menjadi banyak, banyak menjadi lebih banyak, lebih banyak jadi lebih dari lebih banyak, dan seterusnya hingga tumpah ruah bergejolak terbakar berkobar-kobar  memuntahkan kepalsuan sejarah.
Pada akhirnya, tugas-tugas kuliah, pertemanan, kekasih hati, gadget, mampu mengoyakkan jarak, perhitungan, penulisan, visual yang statis maupun dinamis, informasi, komunikasi, media, hiburan, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti rumput yang tak henti-hentinya meninggi dan mendesak udara menggapai langit, mencakar matahari, angkatan muda mendapati rasa mindernya tak ada daya menghadapi kepribadiannya yang kokoh,  rasa hidupnya penuh geliat beriringan dengan sesamanya, rasa ciptanya liar bebas tak berbatas.
Sudah hampir tiba di halte transit. Pengalaman curi dengar ini membunuh waktu saya di perjalanan. Lagi-lagi tidak sempat membaca. “Angkatan muda membuat revolusi, melahirkan sejarah!” begitu pernah Pramoedya Ananta Toer menulis. Saya terjun menuju kerumunan. Perjalanan masih panjang.

Sawangan, 24 Februari 2012

#39 My Cousins: Langit & Bumi

Apaan tuh 1

Apaan tuh 2

Apaan tuh 3

Bapak ikutan mancing dong, mas langit...

Beda Pendapat

Bumi

Bumi 2

Bumi 3

Bumi 4

Menunggu Ibu

Bumi 5

Bumi Menulis

Mas Langit Sipit

Nggoleki opo toh?

Apaan Tuh (lagi)

Langit 1

Langit 2

Langit 3

Langit Bumi

Bumi: Mas Langit awas dong! | Langit: *purapura ga tau

Ibuuuuuu...!

Nangeis meneh

Mobil 1

Mobil 2

Sok Candid. haha

Lagi Nyetrum. Lumayan lauk buat di rumah

Gaya deh ade Bumi

Syusyuuuu

Sedih 1

Sedih 2

Sedih 3

Sedih 4

Masterpiece

Wednesday, 22 February 2012

#38 R U M

#37 Fear Life To Love It

Tuesday, 21 February 2012

#36 Walking Away

Walking away...
Yes, I'm good at it.
Don't you dare to drag me to uncool
Mind your own bussiness
Yes, your own bussiness such dramatic pathethic sadistic sarcastic hectic life of world of fake n fantasy
Yes, go away back to earth, fake people!
Cause i'm an alien..
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com