Wednesday, 14 March 2012

#48 Merindukan Ritual Ini

Bulan lalu saya rekreasi kampus: Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, UNPAD. Saya lebih akrab dengan nama fakultas yang lama, Fakultas Sastra. Di satu sisi, karena banyak riwayat saya berdampingan dengan nama Fakultas Sastra saat kuliah dulu, di sisi lain, karena, mungkin, rasanya terlalu instan sebuah fakultas dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia ini berubah nama.

Mengapa terlalu instan?

Perubahan nama seseorang mesti dilakukan, menurut budaya lokal, jika seseorang itu mengalami sakit yang berkepanjangan dalam hidupnya. Masalahnya kemudian, apakah almamater saya tersebut mengalami sakit yang berkepanjangan sebelum perubahan nama itu dilakukan?

Perubahan nama juga dilakukan, dalam ruang yang lebih besar, oleh lembaga yang sudah siap secara infrastruktur sekaligus ekstrastrukturnya. Masalahnya kemudian, apakah lembaga tersebut sudah siap secara keduanya?

Perubahan nama juga dilakukan, dalam niat yang terpuji, tidak ada kepentingan prestis, persaingan, atau akreditasi semata. Masalahnya kemudian, apakah niat terpuji itu tidak ditunggangi oleh prestis, persaingan, atau akreditasi semata itu?
Saya menulis mengenai almamater saya tanpa ada niat negatif dan tanpa ditunggangi lembaga-lembaga tertentu apalagi kubu politik tertentu. Murni dari subjek si 'saya'. Murni karena saya mencintai almamater saya. Karena, faktanya, kata 'cinta' itu berarti dengan penuh kasih menyediakan ruang khusus di dalam hati, baik atau buruk. Jika kebaikan yang ada, maka terus dipupuk agar tumbuh subur. Jika keburukan yang ada, maka dengan penuh kasih dan sepenuh hati beraksi represi maupun prevensi tanpa maksud merubah sifat asli yang istimewa dari subjek yang dicinta. Dengan begitu kata 'cinta' memang tanpa noda, tanpa prasangka, dan bertahan dengan makna yang 'visible' dan 'possible'.

Sebulan sebelum saya lulus, kira-kira di antara september-oktober 2011. Saya menyerahkan skripsi di perpustakaan fakultas (dulu namanya tentu masih perpustakaan Fakultas Sastra UNPAD) sebagai syarat mengikuti ritual wisuda sarjana, ada beberapa lembar informasi yang terpajang dan tak pernah terlupa: statistik pembaca dan pengunjung perpustakaan. Mengapa tak terlupakan? Bisa dibayangkan, saat itu, lembaga yang bersenyawa dengan literatur, tulisan, dan rangkaian kata, jumlah pembaca maupun pengunjung perpustakaan itu selalu menurun setiap tahun. Kemana perginya infrastruktur itu? Sibuk mengantri belanja di Jatinangor mall (nama disamarkan)? Sibuk berpasang-pasangangan di kosan? Sibuk dengan game online? Sibuk menyodok bola di tempat billiard atau mengantri tiket di bioskop?

Oh, saya juga mengalami itu semua. Toh saya juga bukan mantan mahasiswa yang selalu punya kegiatan yang dianggap penting. Tapi, saya cukup mencintai almamater saya. Oh, saya juga mengalami itu semua. Saya juga berbelanja, bermain game, (dulu) berpasangan,  menyodok bola, dan mengantri tiket. Tapi, saya cukup mencintai almamater saya. Mencoba bertransformasi dengan kegiatan kampus agar saya tetap 'hidup' di kampus. Ya salah satunya: ke perpustakaan. Hal lainnya: membuat kampus berisik dan ramai mengganggu waktu matahari dan bulan yang istirahat. Tidak terikat himpunan atau komunitas apapun tidak masalah. Yang saya mengerti adalah ruang yang berisi mahasiswa berintelektual tajam namun serba bersahabat di luar ataupun di dalam bernama: kampus.
 
Belum lagi tentang porsi yang dijadikan acuan pengajaran Saya merasa bahwa, tanpa membeda-bedakan keduanya, porsi linguistik lebih banyak dibandingkan porsi sastra atau budaya sampai saat saya lulus November 2011 lalu Saya tidak bisa berbicara lebih jauh mengenai ini karena butuh riset yang panjang dan mendalam tentang pengajaran ataupun yang berkaitan dengan birokrasi kampus. Yang memiliki akses lebih banyak untuk itu adalah yang masih berperan mahasiswa saat ini.

Nasi sudah menjadi bubur. Hujan sudah turun. Sekarang, infrastuktur dan ekstrastruktur saja yang memiliki daya dalam pergulatan perubahan nama dengan kenyataan yang ada itu. Saya hanya menulis sebagai penonton yang mencintai dunia panggung, di depan ataupun di belakang.

Maaf jika ada perorangan atau pihak atau lembaga yang tersinggung. Saya kira sepatutnya tidak ada, karena, di zaman modern seperti ini sudah tidak ada manusia modern yang mudah tersinggung. Dan karena tulisan ini murni pemikiran pribadi, tulisan ini murni karena pengalaman pribadi, tulisan ini ada dalam blog pribadi, dan tulisan ini lahir karena saya mencintai almamater saya hehe. Dari tulisan ini saya menantikan diskusi dan perkembangan almamater yang melesat dan sehat. :)

Dan, saya merindukan ritual-ritual di kegiatan kampus ini.

Selamat malam.

Tuesday, 13 March 2012

#47 Bersama Sahabat: Rekreasi Kampus Lalu Ke Darajat


Yang ini namanya Galih Maharstya Wardhana. Dia sangat sederhana bersikap tapi selalu berlebihan dalam berat badan hahaha. Nah, Galih ini kekasih hatinya Hendrieta Novinda Sari, berikut fotonya:

Nah yang ini dia pacarnya Galih. Penuh pipi ya :p

Inget sama karakter kartun 3 monkey kan? *Saya lupa nama karakternya apa. Ini dia: Nanda, saya, dan Ryan

Kalau foto sama kawan wanita tuh mesti selalu bergaya ya? haha. Yang jilbab hijau namanya Andita Galuh Indriastuti, kekasih Ananda Aidil Putra. Kalo yang pake flanel kotak-kotak namanya Desy Tri, kekasihnya Rizani Rachman.

Di depan ruang kelas asisten 6. Saat pelantikan shogun, divisi ospek jurusan, di sini saya pernah jadi tuyul gondrong pendek mengerikan hahahaha

Lalu kita berendam dan bermain air panas di Darajat, Garut. Lokasinya jauh di atas gunung, dekat dengan Kampung Sampireun. Sayangnya ada beberapa sahabat D'Nurs yang tidak serta: Febrischa Yudatama, Putrilia Pratiwi, Nicolas Hutahaean, Luthfia Rahmayanti, Rizqy Kawarizmy, Yoga Hastyadi, Nugraha Hadiwijaya, dan banyak lagi.

Galih: Emaaaaaaaak, pengen kurus :p

Waaaaah, Ananda Aidil Putra....besar ya?

Ini airnya panas buanget lhoo...

Datang di tempat rekreasi umum di waktu yang tidak umum itu seperti... seperti jadi orang kaya mendadak. Bayangkan jika kamu memiliki 4 kolam renang air panas! Bebas jadi anak kecil, menampakkan sisi yang paling ditutupi dari orang lain. Bebas bergerak dan bertingkah konyol tanpa diprotes orang lain. Hanya sahabat dekat yang memahami itu. Keluarga di rumah pun seringkali memahami kita dari kulit yang paling luar saja. Di dalam tidak.

Hoy hoy, tempat umum hoy. Cari kamar..! ^^

Dia menamakan dirinya: Ryde Lucifer

Ini dia yang bernama Rizani Rachman. Aseli Tegal. Ngapak ngapak deh bahasanya :p

Saya menang! *acung jempol

Sebentar setelah foto ini, saat itu, kemeja flanel saya digeleng begitu saja oleh motor warga setempat. Gendeng.

Frame yang penuh.. (mengerti makasudnya pasti..hahaha)
Ngaco.. Galih dengan extension hair dari rambutnya Vinda..
Mendadak jadi juri di acara akustik kampus @PSBJ, UNPAD Jatinangor.

Chuyunk Ryan Andriyansyah hahahaha

Echiww, Sicuww dimanaww?

Sahabat yang ini suaranya bagus banget lho... ^^

Nah, kalau yang ini suaranya super kenceng. Maklum dari Medan. Dan, super jail juga. Tapi baik juga kok dia. Agak-agak gigit sedikit sih hahahaha

Mereka adalah salah satu pasangan yang terhubung oleh keajaiban musik. ^^


KALI LAIN KITA REKREASI LAGI YAA... ^^

Tuesday, 6 March 2012

#46

...problem mendasar guru tidak hanya karena imbalan, tapi juga bagaimana mengembangkan peran pendidikan sebagai alat untuk menumbuhkan kesadaran serta perlawanan. Mendidik bukan hanya memberi informasi, tapi juga menghasut anak-anak didiknya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Itu sebabnya mendidik bukan saja harus melibatkan kerja aktif siswa tetapi juga percaya jika siswa adalah kader-kader pemimpin masa depan.

Sumber pengajaran bukan hanya buku, tetapi juga realitas sosial dimana anak tumbuh. Itu sebabnya sekolah bukan tempat yang asing, eksklusif dan tersembunyi, melainkan kawasan yang memberikan kesempatan siswa untuk berinteraksi dengan golongan masyarakat lain. Tugas pendidikan adalah memerdekakan, begitu kalimat Ki Hadjar Dewantara. Memerdekakan murid dari sikap mental yang mirip seperti budak. Memerdekakan murid dari sikap yang pengecut dan tidak memiliki keberanian mengambil keputusan. Memerdekakan murid dari pola pikir yang asing dan mengajari mereka bagaimana menghidupkan nilai-nilai ideal dalam kehidupan sehari-hari.

--Eko Prasetyo--

#45

"Menyebalkan memang jika pendidikan menjadi barang jual beli, tapi lebih menyakitkan jika penguasa kita hanya melihat pendidikan semata-mata dari gelar yang disandang. Guru adalah tugasmu untuk mengentaskan bangsa ini dari kepercayaan naif tentang gelar, uang, dan jabatan."

--Eko Prasetyo--

Monday, 5 March 2012

#44

Tolong ya bapak-bapak dan ibu-ibu pengusaha periklanan televisi dll, bisa buat iklan yangg mndukung kepribadian bangsa?
Bukan sekedar bisnis saja. Saya kira cukup dimengerti dampaknya bagi negeri yang rentan demam ini. Terima kasih

#43

Adakah dunia yang masih masuk akal selain berprasangka?

#42 The Four Seasons - Can't Take My Eyes Of You


You're just too good to be true
Can't take my eyes off of you
You'd be like heaven to touch
I wanna hold you so much
At long last love has arrived
And i thank god i'm alive
You're just too good to be true
Can't take my eyes off of you 

Pardon the way that i stare
There's nothing else to compare
The sight of you leaves me weak
There are no words left to speak
But if you feel like i feel
Please let me know that it's real
You're just too good to be true
Can't take my eyes off of you

I love you baby, if it's quite alright
I need you baby to warm the lonely nights
I love you baby, trust in me when i say okay
Oh pretty baby, don't let me down, i pray
Oh pretty baby now that i've found you stay
And let me love you, oh baby, let me love you, oh baby...

You're just too good to be true
Can't take my eyes off of you
You'd be like heaven to touch
I wanna hold you so much
At long last love has arrived
And i thank god i'm alive
You're just too good to be true
Can't take my eyes off of you

Can't Take My Eyes Off You adalah single dari Frankie Valli. Lagu ini berada di antara lagu hit Valli terbesar, pernah mencapai #2 di Billboard Hot 100 dan mendapatkan sertifikat emas. Lagu ini telah memiliki dampak budaya yang besar, dengan ratusan versi daur ulang dan mendapat tempat yang istimewa di tangga lagu di berbagai negara.  Ditulis oleh Bob Crewe dan Bob Gaudio. Aransemen dilakukan oleh Artie Schroeck dan Gaudio.
Lagu ini telah dicover oleh lebih dari 200 artis dari tahun ketahun, berikut ini contoh versi lainnya yang terkenal dan masuk chart:

Versi dari Jay and the Americans.
Versi dari Andy Williams mencapai posisi 5 di UK singles chart pada tahun 1968. Pada tahun 2002, dia merekam versi yang baru untuk lagu dan dinyanyikan bersama Denise van Outen, berada #23 di UK singles charts.
Pada tahun 1968, Engelbert Humperdinck merekam lagu ini dan masuk dialbum A Man Without Love.
Pada tahun 1982, Boys Town Gang memainkan lagu ini dengan versi disko berada diposisi #1 di Belanda. Versi ini juga sukses di Jepang, mendapatkan sertifikat emas dari RIAJ pada tahun 2011.
Pada tahun 1991, Pet Shop Boys lagu ini dijadikan single double A-side "Where the Streets Have No Name (I Can't Take My Eyes Off You)/How Can You Expect to Be Taken Seriously?", mencapai #4 di U.K. (Di AS, single dirilis secara terpisah, dengan "How Can You Expect to be Taken Seriously?" mencapai #93 dan "Where The Streets Have No Name/I Can't Take My Eyes Off Of You" mencapai #72.)
Pada tahun 1998, Lauryn Hill (#35 di Hot 100 Airplay tahun 1998). Versi ini dinominsikan untuk Grammy Award for Best Female Pop Vocal Performance tahun 1999.
Pada tahun 2001, grup musik Muse, memainkan lagu ini dengan versi rock dan dimasukkan sebagai sisi-B single "Dead Star/In Your World"
Pada tahun 2004, Jennifer Peña merekam versi latin dari lagu dan dinamakan, "No Hay Nadie Igual Como Tu", mencpai #33 di Latin charts.
Pada tahun 2006, Barry Manilow memasukkan lagu ini kedalam albumnya The Greatest Songs of the Sixties, mencapai #2 di Billboard 200, dan #56 di Inggris.
Pada tahun 2011, penyanyi R&B Jepang Misia, memasukkan versinya untuk sisi-B untuk single "Kioku".
Versi lainnya yang masuk chart di AS:
The Lettermen (#7 pada tahun 1967, lagu di medley dengan "Goin' Out Of My Head")
Nancy Wilson (#52 in 1969)
Maureen McGovern (#27 di chart Adult Contemporary pada tahun 1979)

Sumber: Wikipedia

Dulu, saya pernah menyanyikan lagu ini di suatu acara kampus. Saya sangat merindukan masa-masa itu. Saya menyanyikannya untuk salah seorang perempuan yang sangat hebat dalam hidup saya. Dan, saya harus mengakui bahwa betapa saya sangat merindukannya...

Ini bukan soal nostalgia cinta sedih-sedihan, atau risau galau resah gelisah gundah gulana yang tak bertanggung jawab. Ini juga bukan soal kekecewaan saat saya menjalani kehidupan saya sekarang. Saya bersemangat menjalani perjalanan hidup saya sekarang. Ini semua tentang betapa berharganya riwayat hidup yang telah, sedang, dan akan dijalani.

I can't take my eyes of you
I can't take my mind of what you did to me
The more we grew older, we'd come to realize actually how difficult such simple things were
Life n love survive by any means possible...

Tidak tersimpan foto atau rekaman video saat saya di panggung waktu itu. Tidak apa. Tidak juga mungkin ada padanya. Tidak mengapa. Saya lebih memikirkan kemurnian niat saya saat itu dan kesungguhan saya untuk mengingatnya. Ajaib.

Sunday, 4 March 2012

#41 Utopia

 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com