Monday, 16 April 2012

#49 Can I Just...

Hidup terus berjalan..
Saya melukis, menulis, berteater, bermain musik. Sepenuhnya saya mampu mengisi waktu dengan sepenuh rasa. Saya punya begitu banyak kegiatan seni sekarang. Bahkan waktu terasa begitu kurang untuk saya melakukan gairah berkesenian itu. Saya bahagia. Lebih bahagia dari setahun yang lalu. Lebih dapat menyentuh esensi hidup secara sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Menulis blog pun jadi tidak sempat. Banyak yang ingin saya bicarakan sebagai cara membebaskan perasaan dan pikiran saya. Blog tidak cukup memuat itu semua. Sampai kini pondasi novel saya mulai kuat, lukisan mulai lahir, keduanya saya putuskan untuk rampung tahun ini: produksi novel dan pameran lukisan. Amiin. Pementasan teater ada juga dalam waktu dekat. Tapi, ada pertanyaan ini, dia menggantung melulu di langit-langit seperti bulan dan matahari yang selalu mengikuti kemana saja mata menerawang. "Can i just forget you, mong?" Ketersediaan jawaban selalu jadi setengah, setengah ada, setengah tidak ada. Tiba-tiba ia lenyap, tiba-tiba ia lahir. Sementara, pertanyaan itu selalu tetap di tempatnya.. Saya tidak ingin menangisi dan berbicara dengannya. Saya hanya ingin memeluknya sekali lagi karena saat itu, saat terakhir itu, dia urung dipeluk dan tidak memberikan alasan yang jelas. Saya hanya ingin mendapatkan pengertian tentang apa itu ketulusan, lewat senyumannya. Saya hanya ingin menggenggam tanggannya yang hangat mungil. Saya hanya ingin mendapatkan kerepotan yang luar biasa istimewa dari pada kerepotan yang selama ini pernah dilakukan. Siapapun pasti rela mendapatkan kerepotan karena memang memberikan kebahagiaan tak ternilai selama hidup. Ini nyata. Rasa rindu telah membuat kenyataan itu bertahan: menginginkan suatu hal terjadi sebegaimanapun repotnya dan selama-lamanya waktu.
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com