Tuesday, 29 May 2012

#60 BURN!

Saya terbakaaar. Uwaaaah panas, panas, ciat, ciat, ciat, aw, aw, aduh, aduh, jeger, jeger, duar, duar, duar, bledar, bledar, bledar!

Ada dua kabar baik dan penting menurut saya hari ini. Sangat baik dan penting dari kabar-kabar baik yang ada di hari ini.

Pagi tadi saya berniat untuk memanjakan si capung merah, motor saya. Tapi, keburu males karena satu dan lain hal ajaib kuasa Sang Tak Terbatas. Bangun pagi-pagi sekali, ibadah, dan merapikan diri. Memang bukan hal yang istimewa, tapi masih tetap luar biasa jika suatu hari saya terbangun pagi-pagi sekali dan merasa begitu segar bergairah tanpa kantuk sedetikpun sementara malamnya saya tidur di waktu yang larut sekali. Peristiwa itu luar biasa bagi saya karena meskipun tidak sering, tapi ritmenya mendekati rutin. Adalah hadiah kejutan dari Sang Tak Terhingga, jika peristiwa itu saya alami maka kemungkinan besar akan terjadi hal yang tak terduga membahagiakan sama sekali di hari itu.

Ya, termasuklah hari ini.

Pertama:
Terasa ada kekuatan yang menarik saya dari Studio. Seketika jiwa raga saya bergerak menuju kesana, autopilot, menuju studio. Di perjalanan saya belum ngeuh, hanya berpikir seperti biasa merancang-rancang akan melakukan apa saja di studio nanti. Kinda make a to-do-list, I guess. Telah diputuskan: (1) Membuat stand angklung yang sudah renta dan menyedihkan itu *haha; (2) Bertanya kepada Gigin tentang bagaimana cara memfoto karya dengan baik; (3) Menyunting foto-foto pementasan di Pesantren Al-Muthohar, Plered, Purwakarta, bulan lalu; dan ini keputusan terakhir yang paling menegangkan, (4) Review lukisan dengan Mas Hanafi dan Bunda.

Segala yang terjadi di dunia hanya kuasa Sang Tak Terduga, kemampuan kerdil manusia hanya berusaha dan meniupkan do'a-do'a. Setibanya saya di studio, saya yang masih autopilot melangkah menuju art space. Dari balik sela-sela kaca art space di tentang gorden rumah mungil Mas Hanafi dan Bunda, sambil meletakkan kotak pandora (baca: tas) saya melihat beliau berdua sedang di ruang tengah. Lalu saya pergi menuju studio patung yang ada di seberang jalan depan studio, di belakang tempat bermukimnya Gigin dan garasi, mencari kayu untuk membuat stand angklung.

Singkatnya, stand angklung malah dibuatkan seorang kawan di studio (terima kasih banget lho, Onta Eca, haha). Let's go to the first main fire burn me: Review lukisan. Dari 100 coret-coret (baca: lukisan acrylic di atas kertas ukuran A3) saya, yang menjadi pilihan Mas Hanafi adalah 5 lembar! Bayangkan, betapa mengasyikkannya peristiwa itu!!! Upload foto 5 karya terpilih itu nanti, menyusul. :)

Saya terbakar.

Kedua:
Di sepertiga siang yang terik dan lengang, saya menerima pesan singkat dari seorang perempuan yang memang diharapkan baru-baru ini. (Hah? baru-baru ini? Baru kenal dong? Dan, baru juga ngobrol sebentar doang. Dia cuma nganggep lo biasa aja, den! Kejauhan lo mikirnya. Den... den... ck ck ck). Darn it! Am i dreaming? It's been so long i feel this silly nuance since i'm drowning a year ago. Iya sih, ngobrolnya baru-baru ini aja, tapi sebenernya dia orang lama, kenalan lama. (Lah, kenapa lo jadi curhat sentimental gitu? Terus kenapa baru ngobrol sekarang?) Yah, seperti inilah merasa kerontang. Dipeluk oleh perasaan diri sendiri yang sentimental secara mendadak, begitu cepat, dan begitu kuasa memang wajar terjadi saat sedang kering-keringnya. Bahaya! Dan, klasik, waktu yang ada terlalu sempit untuk melakukan hal yang terlalu banyak, mengenal orang-orang dan sekitarnya yang terlalu banyak juga. Ya! Waktu yang ada terlalu sempit untuk keinginan kita yang terlalu banyak. Pendeknya, baru-baru ini saya 'dipertemukan' dengan dia setelah lama saya berusaha meredam keinginan untuk mengenalnya. Ada rasa yang beda. Pesan singkat itu sangat biasa sebetulnya. Tapi, saya yakin siapapun pernah mengalaminya. Bercakap-cakap tentang hal yang sangat biasa dengan orang yang memang telah lama diharapkan. Kita dibuat tersenyum begitu saja. Kita dibuat mengharapkan kesabaran terbayar dan mukjizat datang. Kita dibuat berandai-andai dapat lebih dekat dengannya. Itu saja.

Sepertinya, memo ini jadi seperti pengakuan dosa kepada cupid. Haha. 

Memang, masih kuat ingatan dan harapan saya kepada K. Tapi, entahlah. Saya tidak ingin sepenuhnya mengharapkan, tidak ingin sepenuhnya melupakan, juga tidak ingin sepenuhnya menuntut hal yang sudah jauh di bentangan bintang. Kemampuan saya hanya berusaha, berdoa, dan terus berjalan tegas di antara hasrat dan sikap yang rasional saja.

Begitupun dengan perasaan yang baru muncul. First of all, I just looking someone, friend or random people, to make a fun, health, cool--an interesting ordinary crazy conversation. Mirip-mirip lagu Ordinary People-nya John Legend dalam hal percakapan lah. Kelanjutannya... Filsafat kuno: "mengalir saja." 

Juga mungkin hal ini masih berupa ungkapan yang hampir serupa seperti tadi, tapi kali ini ditujukan secara tidak langsung kepada dia: saya tidak ingin sepenuhnya mengharapkan (hah? mengharapkan? siapa elo, den!), juga tidak ingin sepenuhnya menuntut hal yang mungkin masih jauh di bentangan bintang (ini apa lagi deh, menuntut? Plis, u're out of ur mind, mate). Kembali lagi pada kemampuan saya yang hanya berusaha, berdoa, dan terus berjalan tegas di antara hasrat dan sikap yang rasional saja. We're just ordinary people. We don't know which way to go. Cause we're ordinary people. Maybe we (Lebih tepatnya I kayanya. She tuh ga mungkin ikut-ikutan. Hehe piss ah.) should take it slow...

Malah mungkin, peristiwa ini, dia terutama, sebatas angin sejuk yang hanya melalu tiap sejuta tahun sekali di musim kemarau panjang. Entahlah.

Jelasnya, kembali. Saya terbakar.
Pertama mengenai hasrat, passion berkesenian.
Kedua mengenai hasrat, mengisi kesunyian per........ perrrr.....perrrrrrr..... Percakapan! Ya! Masih mengenai percakapan. Masih mungkin mengenai percakapan pertemanan, persahabatan, persaudaraan, atau..... mungkin juga perr....perrrr....perrrrrr.......perrrrrrrr
Susah!
Perrrr...........perrrr.....perrrr.......perrrr........cin.............. >,<
Teruskan sendiri! hahaha :))

Sorry if it's too personal. :p

#59 Re-

Re-read, Re-play, Re-watch, Re-hear, Re-touch, Re-act, Re-smell, Re-movement, Re-hearsal
: Recall, Recollect, Reconsider, Reconstruct, Rebuild, Re-create

Untuk kali kedua, saya membaca “Jejak Langkah” karya Pram. Begitulah kecenderungan diri saya yang mulai saya kenali. Akan berulang kali saya cumbu jika buah karya seseorang dalam bentuk apa saja mampu membuat saya insaf. Film-film dan karya-karya bentuk audio visual lain biasanya lebih mudah dicumbu ketimbang karya-karya bentuk literer karena dapat dihenti-putar ulangkan dengan cepat. Sebaliknya, karya-karya bentuk literer lebih membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk dicumbui karena lebih menuntut kerelaan diri membebaskan imajinasi rasa dan penginderaan seliar-liarnya sementara kita terjebak dalam keluhan-keluhan pada realitas, logika, dan batas-batas. Namun, bukan berarti mencumbu karya-karya audio visual menjadi lebih mudah. Beda proses antara keduanya.



“Jejak Langkah” adalah buku ketiga dari Tetralogi Pulau Buru di antara “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, dan “Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer.  Seperti yang mungkin juga orang-orang maklum, Tetralogi Pulau Buru pernah dianggap sebagai karya sastra yang diharamkan oleh pemerintah karena dianggap mengintimidasi dan ‘mengacaukan’ cara pandang masyarakat Indonesia. Karenanya, Pram dicengkram oleh besi-besi karat di ruangan paling hina dan primitif di dunia selama bertahun-tahun, tanpa proses pengadilan; karya-karyanya dilenyapkan secara massal.

Tentang ulasan saya terhadap buku ini, pasti tidak akan ada apa-apanya dengan ulasan-ulasan yang pernah ada. Saya hanya berniat menambahkan keremehan dalam ulasan karya yang terlanjur masterpiece ini. Hal-hal yang remeh, saat ini, sudah lumrah diejawantahkan oleh orang-orang sebagai 'yang tidak memiliki pengaruh apa-apa', malah sebagai 'yang terlupakan' dan 'yang dilupakan'. Sewaktu sekolah dasar dulu, mengulas sebuah pekerjaan rumah, bacaan, dan buku adalah hal yang paling mendorong diri untuk memohon keajaiban dari Tuhan agar secepatnya lonceng dibunyikan sebagai petanda waktu pulang. Namun saat ini, saya merindukan ruangan kelas itu, bersama Bapak/Ibu guru dan kawan-kawan sekelas, mengurai aljabar, mengulas cerita si kancil, atau sekedar membahas pelaksana upacara senin pekan depannya. Saya tidak lagi ingin cepat-cepat mendengar suara lonceng itu.

Lalu, beranjak sekolah menengah, lalu perguruan tinggi. Saya kehilangan asyiknya keremehan itu. Hingga saat ini, setelah lepas dari perguruan tinggi, saya semakin kehilangan asyiknya kebebasan mengulas. Mulanya mengulas secara permukaan, lambat kemudian tak tersadar sedikit menyelam ke dalam. Dan saat ini, dunia sedang kurang menyediakan ruang yang akrab untuk saling mengulas. Dan saat ini, dunia semakin memberi kita batas-batas saling-membuka-cakrawala. Dan saat ini, dunia padat sesak dengan peristiwa pemaksaan kemauan-kepentingan pribadi/golongan belaka. Dan saat ini, di balik wajah demokratis, dunia semakin  malu menyembunyikan dirinya.

Setelah berusaha mengosongkan kepala dari ingatan dan pengalaman sisa-sisa proses pembacaan yang pertama; dan dari kekakuan berpikir dan merasa, saya membacanya. Di 20 halaman pertama, saya diingatkan kembali perihal kesamaan hak, rasa penghargaan terhadap sesama, ke-tak gentar-an, dan hal-hal selain keping koin. Berikut kutipannya:
“Jangan coba-coba sekasar itu padaku, tantangku dalam hati. Jangan coba-coba menganiaya kopor busuk yang nampak hina dusun itu. Isinya lebih berharga dari semua kalian, calon-calon dokter keparat! Kalian harus kenal aku dulu, sebagaimana aku harus kenal kalian. Dalam kopor itu tersimpan pikiran-pikiranku yang terbaik: catatan, surat-surat, termasuk surat persahabatan dan percintaan, guntingan koran, naskah-naskah romanku—semua mungkin lebih dari dua kilogram. Pernah kalian punya harta seberat itu? Dan surat-surat berharga dari orang-orang lain juga—dan semua itu takkan pernah kalian dapatkan dan miliki? Belum lagi surat-surat dari Bunda. Aku tak percaya kalian punya ibu seperti ibuku. Juga aku tak percaya kalian punya pengalaman seperti yang pernah aku rasai dan simpulkan dalam catatan. Kalian, calon-calon pemakan gaji Gubermen, calon-calon priyayi.” (2006, 19-20)
*つづく
*bersambung

#58 Beberapa Lirik Lagu Leo Kristi (3)

Pohon Kemesraan


Kembali ke tanah ini
Pembaru, tekad
Anugerah alam dan langkah

Membangun berjuta air jernih
Mengalir terus
Mengalir

Dari hati
Membuka hati
Hari nanti
Pohon kemesraan

Daya-daya menatap mata
Gairah rasa hormat sesama
Daya-daya menatap mata
Semangat cita bakti ciptanya

Membangun berjuta pohon rindang
Jangkau
Cakrawala hati

Aaa...aaa...haai...
Aaa...aaa...aaa...aaa...haai...

Aaa...aaa...haai...
Aaa...aaa...aaa...aaa...haai...

Pohon kemesraan


Nyanyian Fajar


Hening sekelilingmu
Hening sekelilingmu

Kau lihat fajar mulai menyingsing
Kau dengar suara adzan pagi
Kau dengar suara bedug di surau
Hatimu menangis

Jangan bersedih
Allah Pengasih

Dengarlah padi mulai ditumbuk
Suara dari gubuk-gubuk
Dengarlah langkah gerobak sayur
Hampir tak mengenal tidur

Lihat! Gadis di sawah
Merah, kuning, jingga kebayanya
Dengan ani-ani di tangannya
Fajar di hatinya
Fajar di hatinya

Bangun! Ayo bangun!
Berjalan tegakkan kepalamu
Nyanyikan di timur matahari
Fajar di hatimu
Fajar di hatimu

Aaaaaa.....aaaaa....aaaaa....aaaaa....aaaaa...aaaaa...aaaaa...
Aaaaaa.....aaaaa....aaaaa....aaaaa....aaaaa...aaaaa...aaaaa...

#57 Beberapa Lirik Lagu Leo Kristi (2)

Sayur Asam Kacang Panjang


Terkantuk-kantuk belakang dayung
Aku tak pernah tidur
Dengan setumpuk ikan di perahu
Mungkin cukup sehari hidup

Sayur asam kacang panjang
Hari esok akan panjang
Sayur asam kacang panjang
Hari esok, cahaya terang, biduk mengambang


Terkantuk-kantuk belakang lesung
Aku tak pernah tidur
Dengan setumpuk padi dan jagung
Mungkin cukup sehari hidup

Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...


Sayur asam kacang panjang
Hari esok akan panjang
Sayur asam kacang panjang
Hari esok, cahaya terang, biduk mengambang


Terkantuk-kantuk belakang kampung
Aku tak pernah tidur
Dengan sekotak wayang dan gambang
Mungkin cukup sehari hidup


Sayur asam kacang panjang
Hari esok akan panjang
Sayur asam kacang panjang
Hari esok, ku simpan lara, ku simpan rasa
Di dasar hati


Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...

Tidur...
Tidur...
Tidur...
Tiduuuuuuuuur...


Lenggang-lenggung Badai Lautku


Haiya...haiya...haiya...
Haiya...haiya...haiya...

Hmmm......

Berbondong-bondong nelayan ke laut
Berbondong-bondong nelayan ke laut

Apakah yang terjadi?
Aku tak tahu
Apakah yang terjadi?
Hey, disitu!

Kiranya nelayan muda kembali
Hanya perahu
Meninggalkan istri lama
Bersedih menunggu

Kenapa tak kembali?
Kenapa tak kembali?
Kenapa tak kembali, nelayanku...
Nelayanku...

Lenggang-lenggung badai lautku
Lenggang-lenggung badai lautku

Badai...
Badai...
Badai...
Lautku!




#56 Beberapa Lirik Lagu Leo Kristi (1)

Lewat Kiara Condong

Lewat Kiara Condong kereta laju
Panorama di sana memaksaku tersenyum
Bocah-bocah tak berbaju
Berlari-lari di sepanjang tepi

Di setiap detak roda yang kelima
Bergerombol bocah-bocah

Bermain gundu, kuda pelepah
Mengejar layang lambaikan tangan
Bermain gundu, kuda pelepah
Mengejar layang lambaikan tangan

Ohh...
Bilakah mereka lambaikan buku
dan pena di tangan

Lewat kiara condong kereta laju
Seorang gadis telanjang dada
Basah rambutnya berkeramas
Sempat ku lihat tisik kainnya

Di balik bilik bambu
Reyot dan tak beratap

Lai...lai...lai...lai...lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...lai...lai...lai...lai...

Ketika lewat Kiara Condong
Matahari tidur di balik gunung
Ketika lewat Kiara Condong
Tuan-tuan tidur di sejuk gunung


Malam-malam Kerinduan
beserta Salam Hormat 
dan Cintaku kepada Ibu
di Desa Pelukis, 
yang Petani

Ha....ha....ha...
Ha....ha....ha...ha...ha...ha...ha...ha...

Bungami
Bungami
Bungami... Aku melay...

Bunga-bunga mimpi
Bunga-bunga mimpi
Bunga-bunga mimpi aku melayang

Ke tanah seberang
Ke tanah seberang
Ke tanah seberang

Semangat padi nyanyian bunga
Bersatu dalam roh dupa
Dua hati satu jiwa tulus
Nafas demi nafas

Lahir....
Dalam nafas...

Ha....ha....ha...
Ha....ha....ha...ha...ha...ha...ha...ha...


Ke tanah seberang
Ke tanah seberang
Ke tanah seberang




Nyanyian Pantai

Tepian pantai
Serakan lokan
Angin laut yang bertiup

Deburan ombak
Suara pekik bangau
Sinar surya memeluk hangat
Sinar surya pagi

Ku lihat camar-camar (camar-camar)
Ku lihat layang-layang (layangan)
Di batas cakrawala

Bersama mengalunkan
Simfoni.....
Hmmm.....
Kedamaian

Lai...lai...lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...lai...lai...
Lai...lai...lai...lai...lai...lai...

#55

Sejak kapan orang-orang kerap berubah-ubah
saling menyerang dan urung mengalah?
Sejak kapan orang-orang tidak lagi beriman
pada saat yang damai dan alami?
Sejak kapan orang-orang meninggalkan kewajaran
dan kemurnian naluri?
Sejak kapan orang-orang enggan bercucuran keringat?
Sejak kapan orang-orang hanya bertanya
tanpa mencari jawaban?
Sejak kapan orang-orang hanya mengurai jawaban
tanpa bertanya dengan dasar?

Orang-orang
mengelabui jarak dan ruang
Tapi tidak dengan waktu

Friday, 25 May 2012

#54 K




Wednesday, 23 May 2012

#53 Tanpa Celana

Ada saat berada dalam keterpaksaan. 
Ada saat berada dalam kebebasan.
Tapi, saya kira, lebih banyak saat-saat tulus sejak dari pikiran

Ini tentang chatting saya (D) dengan salah seorang kawan (R), membicarakan tema sebuah karya, teknis, dan...sekedar tukar pikiran saja. 


Yang berpakaian wisuda adalah saya dan R:



Sengaja saya potong diskusi di bagian awal karena akan terlalu bertele-tele nantinya. Berikut diskusinya:

D: lalu dari naskah itu, pergerakan kita kemana?
R: lebih mudah lewat chat... tapi gue sepertinya akan sangat jarang...sms pun oke...banyak bonus ini. haha
D: hahahaha
R: ah, pergerakan ya? itu belakangan lah. bikin aja dulu... klo misalnya suatu saat bisa difilmkan, atau dipentaskan... syukur, klo nggak, yowis...
D: oke. Saling merespon dan spontanitas aja yaa..
R: yowis... yowis... yowis dibakar maksudnya...
D: haha. via sms kayanya lebi asik
R: yup. spontan aja... seperti pembicaraan sehari-hari... masing-masing bicara karena ada tanya dan jawab...masing-masing tidak tahu bagaimna akhirnya...
D: baidewei, blogspot lo melapuk noh... barusan gue liat
R: biarin aja. gue gaptek haha. jadi gmana? tentuin harinya... waktunya... atau, gak usah pake hari... klo kepikiran, langsung sms... gimana?
D: Kapanpun. Lo tentuin tokoh, lo sms gue sesuai tokoh itu, Gue tentuin tokoh, gue bales sms sesuai tokoh gue juga
R: ya, setuju... gak usah pake target waktu ya.. sampe kita merasa udah cukup aja...
D: yohaaaa
R: setahun, atau lebih, terserahlah
D: Berarti penting banget pengarsipan ke harddisk
R: ya, minimal. masing-masing ada catatan... oke, minggu depan kita mulai. minggu ini cari karakter...
D: siaap
R: sip? satu karakter yang tidak boleh... tong jadi homo..
D: haram itu tentu
R: kecuali kalau takai ingin ikut serta..
haha
D: itu bisa diatur lah. Kita berdua dulu. Sewaktu dialog itu udah cukup kuat jd kerangka, bisa disunting sana-sini
R: ya, bedua aja dulu...asal karakter kuat pun sudah cukup seperitnya...
tadinya, gue mau ajak diar...tapi (dalam anggapan gue), gue sudah agak mengenal dia dengan dekat, jadi takut dialog yang dia buat sudah bisa gue tebak...lagian, gue juga udah pernah bikin bareng diar... klo ma lo kan, agak beda...
D: hahahah
R: lo agak, maaf, masih waras... hampir maksudnya
D: kalo gue masih waras, gue akan sudah bekerja di sebuah perusahaan, di dlm kantor, di lapangan atau dimanapun, dlm misi pemburuan uang dan kemapanan. Nah, dgn yg kedua gue masih bisa setuju... hampir waras
R: Sebenarnya, orang yang waras itu kita... termasuk orang gila yang duduk-duduk tanpa celana...
D: Tanpa celana? gawat ya kita... hahahaha
R: tanpa celana dalam arti sufi... hahaha pembenaran
D: metafornya kenapa celana?
R: karena celana tempat menyembunyikan kelamin (hal yang bagi banyak orang persoalan neraka-surga). ah, sudahlah... haha
D: jahahaha
R: sudahlah...saya harus menulis soal dahlan iskan... harus "agak dipaksa" menjadi pengagumnya... he
D: selamat berada dalam situasi keterpaksaan wahahhaa
R: haha.... contoh idealisme yang kalah oleh sebungkus rokok hahahaha

D: wahahhaa. Ada saat berada dalam keterpaksaan. Ada saat berada dalam kebebasan. Tapi lebih banyak saat-saat tulus sejak dari pikiran 
R: hmm. gue pikir, merokok pun merupakn saat-saat yang tulus dari pikiran... hehehehehe. ok. selamat mencari karakter... selamat malam.
D: Okeh. Selamat hampir sepertiga malam.


Saya sering berada dalam diskusi seperti ini, hanya saja baru kali ini saya, entah kenapa ingin ikut menuliskannya dalam blog. Saya pikir, diskusi seperti ini, adalah harta. Proses kreatif dalam menjadikan sebuah karya, adalah harta yang berharga, begitu juga dengan hubungan dan silaturahmi terhadap sesama, keluarga, kawan. Semoga saya tidak salah mengutip kata-kata Mas Hanafi suatu waktu: "Saya yang menjadikan karya, bukan karya yang menjadikan saya." Dan, menurut saya, sangat rendah sekali jika berpikir tentang kecil atau besarnya sebuah karya, justru proses bersama ketulusannya lah yang menjadi nyawa sebuah karya.


Sengaja saya menulis judul posting kali ini adalah "tanpa celana" karena sepertinya itu metafor yang paling dekat dengan kemapanan, uang, dan segala bentuk fisik sebagai pameran dan kemaluan pribadi belaka, bukan sebagai kendaraan pencapaian. Terima kasih kepada R yang telah memberikan stimulan, tema dan judul secara langsung, "Tanpa Celana", dan juga tentu atas diskusinya. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi kaya, tidak juga ada yang menuntut kita menjadi miskin. Tapi, jika masih saja pergunjingan di antara sesama manusia adalah mengenai kekayaan dan kemiskinan, maka tak lama lagi dunia akan dipenuhi oleh orang-orang (tentu sebagian besar adalah angkatan muda--usia anak-anak hingga paruh baya) yang tidak lagi mengenali gerakan perasaannya sendiri. Sudah terlalu banyak angkatan muda yang mapan, yang berlimpah harta, tahta, dan (banyak) pasangan. Saya pun ingin seperti itu, wajar. Tapi, saya ingin mengakui bahwa saya belum mau menjadi mapan karena saya belum matang.

Mapan sebelum matang akan mengganggu kerja alam...
Pukul 02.36. Selamat sepertiga malam, kawan...

Tuesday, 22 May 2012

#52 Banjir dan Panen Lele

Sesuai dengan judul posting kali ini: tentang banjir dan panen lele.

Saya baru bangun hibernasi sore kemarin. Hujan masih gerimis. Lama-kelamaan tambah besar, besar, besaaaar. Angin kencang. Petir menggila.

Awalnya cuma tetesan bocor biasa di pinggir-pinggir atap tembok. Mbak Yati, saya, ngepel bahu membahu. Sementara Mbak Tuti nggendong Bumi dan jagain Langit supaya ga kemana-mana. Kan repot tuh kalo lagi becek-licin di lantai rumah, Langit dan Bumi malah main. Bisa-bisa rumah mendadak jadi waterboom buat mereka. Tapi kok lama-lama capek yah? Di pel, tapi ga abis-abis. Hahahaha

Posisi sebelum kebanjiran: saya di dekat pintu belakang, Mbak Yati di dekat pintu depan. Pintu depan tertutup. Nah, tiba-tiba Mbak Yati teriak: "Aduh Deniiii, ini air dari manaaa?? Banyaaak bangeeet. Gimana iniii? Gimanaaaa???" Saya cuma bengong. Gaji buta nih ngepel dari tadi. Airnya malah tambah banyak. ---_____---

Mencoba membuka pintu, malah air makin deras masuk rumah. Pintu ditutup lagi. Tapi dasarnya sifat penasaran saya tingkat dewa, saya buka pintu lagi. Masih hujan meski tidak sederas beberapa menit lalu. Pasrah. Dan, airnya menggenang semata kaki. Menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan saja jadinya. Sayangnya saya belum punya properti kamera. Sayang banget momen-momen mendadak kaya gini ga terdokumentasi. 

Menggunakan ponco, saya keluar rumah. Ajaib sekali. Ajaib. Air empang dan selokan di sebelah rumah mengalir deras coklat pekat. Di kepala saya "Surga sedang turun ke bumi, bukan untuk manusia, tapi untuk ikan-ikan" hahaha. Panen ikan!

PR adalah singkatan dari Pekerjaan Rumah. Dan betul sekali betul, PR lah yang harus dikerjakan ini. Membersihkan lantai rumah yang digenangi air coklat pekat semata kaki. Mbak Yati memanggil air ini dengan sebutan, 'Air Bebek'. Memang aneh Mbak yang satu itu. Untungnya, aneh yang masih dalam tahap lawakan. Hahahaha. Langit turun dari sofa tempat dia duduk terkesima melihat genangan air sedari tadi. Saya juga ga yakin jika Langit akan tetap terkesima melihat air itu. Pasti dia penasaran. Benarlah, dia berjalan dengan kaki tergenang. Mbak Yati bilang, "Aduhhh, Mas Langit. Naik lagi. Di sofa aja. Airnya kotor ini. Air bebek." Namanya bukan Langit jika dia ga komentar setiap pertanyaan. Langit bilang, "Kok bebek? bukan ayam yah?" --____-- Begitulah Langit. Jika ada sesuatu hal yang diluar pikiran, emosi, atau pengetahuannya, selalu dihubung-hubungkan dengan ayam. "Bukan, itu ayaaaaam!" Langit selalu ngeles dengan kalimat itu jika digoda-goda saat dia sedang ngambek atau nangis.

2 kali pel lagi sudah akan selesai pekerjaan melantai ini. Sisanya, teras depan-belakang, cuci sendal-sepatu dan celana-baju yang terendam, cuci lap-lap pel, membersihkan kamar mandi. Sore tadi berubah malam. Dan malam berubah panjang.

Lantai selesai. Bu'de, tetangga sebelah, datang membawa piring berisi, sepertinya, ikan. "Ini. Semuanya pada panen lele. Ditangkap bareng-bareng. Digoreng, dimakan bareng-bareng. Sambelnya enak lho."

Saya berkata kepada diri sendiri, "berbahagia di atas penderitaan orang lain kalo gini caranya. Empang di sebelah jebol. Kan kasian pemiliknya." Bahayanya manusia itu ialah akan mudah kehilangan akal sehat jika sedang kelaparan. Malam panjang selesai. Lelah dan lapar. Jadi, lele itu saya makan. Maafkan...


Monday, 21 May 2012

#51 Agenda Studio Hanafi: Menyaksikan Konser Kebangkitan Perdamaian Dunia Leo Kristi

Dititipi tugas untuk mencari mobil rental ternyata sulit, kawan. Tentu saja sulit karena sejak kamis lalu di seluruh penjuru nusantara sedang mewabah demam long weekend. Orang-orang berburu kehangatan, berkeliaran di jalanan, berdesakan menuju tempat-tempat rekreasi, bergotong-royong bersama keluarga, sahabat, dan kolega mengoyak rutinitas yang dingin. Sudah jadi peristiwa yang biasa jika penduduk Jabodetabek kisruh hijrah ke luar kota. Berkendara sepeda, bajaj, andong, motor, mobil, dan segala rupa alat transportasi, atau mungkin ada juga yang rela berjalan kaki untuk hengkang sementara dari kesibukan maksimum kota-kota. Saya menyusuri jalan Meruyung, Depok hingga Karang Tengah, Cinere, putar arah hingga Margonda, Depok, mengetok setiap pintu-pintu kantor usaha jasa rental mobil, hasilnya nihil. Ajaib!

Begitulah orang-orang haus akan rekreasi. Begitulah orang-orang sesungguhnya hampir kewalahan menghadapi penatnya hari-hari. Begitulah orang-orang...

Hmmm, apa mau dikata. Saya melapor saja seadanya. "Sudah, sewa angkot saja," jawaban Bunda. Tidak lama, langit turun ke bumi diwakili oleh angkutan umum. Warna biru muda di depan Studio, serasi dengan legam aspal, gagah sekali.

Kami berangkat: Saya, Mas Djati Nurani, Arum, Ajat, Novi, Rini, Mimi, Mayang, Nabila beserta kawan kecil lainnya. Sayangnya Bunda tidak bisa ikut karena harus menemani anaknya dan menunggu kepulangan Mas Hanafi dari Hongkong.
,
Jika saja di setiap perjalanan selalu bersama dengan kawan-kawan kecil, pasti akan ramai dan mengasyikkan sekali. Selalu ada gelak tawa dan permainan. Bayangkan, motor vespa atau corak loreng yang terlihat di perjalanan saja bisa dijadikan permainan oleh mereka! Dan memang sangat seru! Begitulah anak-anak, setiap saat selalu menyenangkan, sangat tak berbeban. Menyenangkan!



Awalnya, saya menduga kawan-kawan kecil akan kecewa jika menggunakan kendaraan tanpa AC yang jalannya lambat, bising, dan selalu bergetar disana-sini. Ternyata saya salah menduga. Kawan-kawan kecil saya bukan seperti anak-anak kecil zaman sekarang yang terbiasa bermanja dengan kenyamanan. Mereka asyik-asyik saja, ramai-ramai saja.

Begitu sampai di daerah Sentul, kami mulai bingung menuju "Gedung Perdamaian", arah Citeureup. Bertanya kepada pedagang di pinggir jalan jadi keputusan bersama. Setelah bertanya, kami dianjurkan melanjutkan perjalanan menuju tikungan ke kanan. Sampai di tikungan kedua, kami buta arah. Kami berhenti dan bertanya lagi. Karena tidak ada yang memiliki keterangan detil mengenai gedung pelaksanaan konser, insting lah yang hadir, Mas Djati beranggapan bahwa Konser Kebangkitan Perdamaian Dunia Leo Kristi dilaksanakan di Taman Budaya. Diberilah kami arahan yang sangat jelas mengenai Taman Budaya di daerah Sentul City.

Sepi.

Tidak ada sesuatupun petanda sedang diadakannya sebuah acara. Sms, telfon, dan akses informasi dari jejaring sosial menjadi percuma karena sinyal telepon genggam yang lemah. Saat itu bukan lagi kami buta arah, melainkan buta informasi. Dan, kawan-kawan kecil terlihat mulai kehilangan asa, dan, dan, pasti mereka merasa lapar, sementara udara semakin dingin. 

Berhasil. Informasi dari jejaring sosial berhasil diakses. Konser tepatnya dilaksanakan di Auditorium Gedung Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, mulai pukul 19.30. Kami bertanya kepada orang-orang terdekat. Baru diketahui ternyata kami harus putar arah jika ingin menuju Citeureup. Wah! Baru kami sadari ternyata pedagang tempat kami bertanya pertama tadi ternyata pendatang baru yang juga sama seperti kami, buta arah! Waktu saat itu tengah menunjuk pukul 19.20.

Dalam keadaan darurat, generasi anak-anaklah yang pertama wajib diselamatkan. Makanan berat yang sudah dibawa sejak keberangkatan, terpaksa diberikan dalam perjalanan. Kawan-kawan kecil menyantap makan malam dalam angkutan umum sewaan yang berjalan penuh goncangan dan ombang-ambing. Sedih rasanya...

Kawan-kawan kecil selesai makan. Kami pun hampir tiba di tempat tujuan. Kali itu, sudah semakin jelas arah perjalanan. Baliho acara yang begitu besar terlihat dari kejauhan.

Membelok, lurus, membelok, lurus, jalan panjang, membelok, jembatan, menanjak, melandai, membelok, menanjak, membelok, menanjak, jalan panjang melandai... Ternyata kami belum hampir sampai. Jalanan gelap. Beberapa tentara terlihat berjaga di pinggir-pinggir jalan. Kami berhenti di hadapan jeruji di tengah jalan, di sampingnya terdapat sebuah pos penjagaan. Ya! Kami berada di arah yang benar. Angkutan melaju, mesin menderu. Jalanan menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, melandai, menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, melandai, menanjak, menanjak, menanjak, menanjak...melandai, membelok...

Beberapa tentara berjaga di tengah jalan. Terlihat dari balik helm biru bertuliskan "UN" tentara-tentara itu, mobil-mobil pribadi memenuhi lahan parkir. Kami tiba di tempat. Terlambat 20 menit. Di depan pintu masuk, saya sempat melihat ke belakang. Kendaraan yang kami gunakan sangat mudah dikenali. Biru langit  angkutan umum sewaan begitu cerah ceria di tengah kerumunan mobil-mobil pribadi meski di malam hari.

Lighting berkilauan, musik menggema, AC begitu menusuk suhu ruangan, dan penonton bersorak bertepuk tangan. Begitulah kami memasuki auditorium...


Saya menangkap gambar sekenanya. Konser ini begitu bergelora, penonton, penata cahaya, penata kamera, penyanyi, pemusik, Om Leo Kristi, semua bergelora.









Konser pun usai...



Kawan-kawan kecil kelelahan...


Saya, Ajat, Mayang, Mas Djati, Novi, Dinda, dan tentu Pak Sopir masih tetap terjaga...


Mimi tertidur kelelahan. Saat itu badannya sedang agak kurang sehat....


Kawan-kawan kecil baru terbangun ketika sudah akan sampai di Studio Hanafi. Kira-kira pukul 00.30... Mereka terbangun oleh goncangan dan ombang-ambing di dalam angkutan. Gang Manggis, jalan masuk menuju Studio dari arah jalan raya Cinere-Parung Bingung, begitu 'abstrak', dan cekung bercorak-corak.


Di Studio keesokan harinya...


Kami berlatih vokal dan musik...


Bermain musik dan menyanyikan lagu "Lenggang-lenggung Badai Lautku", "Nyanyian Pantai", "Nyanyian Fajar", "Sayur Asam Kacang Panjang", "Lewat Kiara Condong", "Malam-malam Kerinduan.....................di Desa Pelukis yang Petani", dan "Pohon Kemesraan".


Setelah menyaksikan secara langsung penampilan Om Leo Kristi, kami jadi lebih bersemangat bermain musik dan bernyanyi. Perasaan kami jadi lebih kuat. Senyum kami jadi lebih lebar. Wajah kami jadi lebih berseri-seri. Kawan-kawan juga bisa bernyanyi dan bermain musik bersama kami, bermain teater, menari, berpuisi, melukis, membaca buku, bermain tanah liat, dan sangat bebas cengkrama dengan kami. Ayo,  ayo berkunjung ke Studio Hanafi... ^^

Terima kasih, Bunda, Mas Hanafi, Studio Hanafi. Terima kasih Mas Djati. Terima kasih Om Leo...

Inilah rekreasi kami, anak-anak sekaligus kawan-kawan dari Studio Hanafi bagi siapa saja, dalam mengisi long weekend kami. Kami mengadakan perjalanan yang sederhana lalu kami mengimajinasikannya dan berkreasi. Lalu tentang rekreasimu, bolehkah kami mengetahuinya, kawan?

Saturday, 19 May 2012

#50 Di Antara Mimpi dan Realita

Genap setengah tahun saya menetap di Sawangan. Tidur di ruang tamu, tanpa memiliki kamar sendiri. Saya bukan tidak mensyukurinya. Justru sebaliknya, saya merasa bersyukur sudah diberikan tempat berteduh dan kesempatan tinggal bersama Oom Joko dan Tante Hawa, bersama kedua anaknya, Langit dan Bumi, dan bersama kedua pengasuh anaknya, Mbak Tuti dan Yati. 

Hampir setiap hari rutinitas selalu sama. Saya anggap selalu sama agar keseharian yang saya tulis ini dapat lebih mudah dikisahkan. Seperti ini, misalnya:

Setiap pagi, kedua pengasuh, Mbak Yati dan Mbak Tuti bangun selalu lebih awal dari yang lain. Tentu mereka bangun untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebagai kewajiban terhadap Oom dan Tante, juga kewajiban pribadinya seperti beribadah sholat subuh. Disusul oleh Tante, bangun, sholat, dan bersiap diri. Lalu Tante membangunkan Oom dengan 'ramai'. Aktivitas 'ramai' itu kerap kali menarik saya untuk ikut bangun, atau malah pindah tempat ke kamar Oom dan Tante untuk tidur kembali. Saya akui saya masih pemalas. Saya masih terlalu mudah tergoda oleh kamar dengan kasur yang empuk, selimut tebal, dan penyejuk udara. Sering juga malah saya baru tidur setelah seisi rumah terbangun sebagai kebiasaan 'mahasiswa yang tidak pernah tidur di malam hari' yang belum bisa dikendalikan.

Bumi kerap bangun lebih awal dari kakaknya, Langit. Akhir-akhir ini dia sedang memiliki kebiasaan yang lucu: menggigit 'apa saja di bagian mana saja'. Orang-orang tua dulu menganggap kebiasaan menggigit yang dilakukan balita seperti Bumi itu adalah tanda bahwa gigi-gigi mulai tumbuh. Memang, gigi-gigi Bumi yang terlihat baru ada 6. Balita selalu membuat gemas, 4 gigi di atas, 2 gigi di bawah, dan akan bertambah banyak lagi nanti. Begitulah Bumi. Begitu juga dengan kata-kata pertama yang diucapkannya, seperti 'jatuh'. Bumi mulai  tumbuh dan cerewet. Mungkin kata 'jatuh' itu berasal karena memang Bumi selalu tidak seimbang berjalan dan selalu jatuh. 'jatuh' yang diucapkannya sering terdengar 'datuh' atau 'jacuh', dan kata-kata yang lainnya terdengar aneh seperti bukan kata-kata, lebih seperti bahasa asing, seperti 'aaaaaaaaaaaaa', 'uuuuuuuuu', 'ooooooooooo', atau malah 'a', 'u', 'o' yang pendek saja. Haha, lucu. Tapi sekarang dia sudah lebih seimbang berjalan dan mempunyai kata-kata baru seperti, 'bapak', 'mbak', 'aa', dan tentu 'ibu'. Yang belum berubah adalah kebiasaan menggigit 'apa saja di bagian mana saja', mungkin gusi-gusinya terlalu gatal didorong oleh gigi-gigi yang ingin keluar, hingga ia menjadi liar. Ya, Bumi menggigit 'apa saja di bagian mana saja'. Hati-hati.

Cerita ini masih terlalu singkat. Belum berlanjut pada bagian Langit dan Bumi menangis ditinggal Bapak Ibunya pergi, dan begitu banyak tentang kelucu-polosan mereka, belum juga berlanjut pada kebun kecil di depan-samping rumah, belum juga tentang kolam dan isinya seperti ikan-ikan lele sebesar kaki orang dewasa, belum juga tentang Bon-bon, kura-kura sebesar mangkok yang menghilang, belum juga tentang pencarian ikan-ikan lele yang kabur ke selokan dari empang sebelah rumah yang jebol jika hujan deras, belum juga tentang buah-buah jambu batu, tentang pak de yang ada di iklan 99 tahun rokok dji sam soe, tentang tetangga depan rumah yang baru kemalingan motornya sekitar pukul 03.00 padahal saya baru tidur sekitar pukul 04.30, belum lagi tentang setiap malam setelah saya menggelar karpet dan bed cover di depan tv di ruang tamu, tentang kebiasaan saya seperti sedikit dari kebanyakan orang memakai bantal. Saya memakai bantal bukan untuk kepala bersandar, tapi untuk saya peluk. Erat. Tentang baterai jam yang harus saya copot sebelum tidur karena suara jarum jam dapat membuat saya tidak tidur semalaman. Tentang Studio Hanafi, tentang rumah, tentang Bapak dan Mama, tentang A'egi dan Ica, tentang Mbah dan saudara-saudara, tentang sahabat-sahabat, tentang pementasan teater, tentang lukisan saya, tentang liburan saya, tentang hati, tentang keyakinan, tentang mimpi, tentang realita, tentang begitu banyak hal dalam hidup saya..

Sudah pukul 03.03 saat ini. Saya harus mencabut baterai jam, mematikan tv, laptop dan lampu, lalu tidur. Pagi ini saya harus ke Studio, lalu mencari mobil untuk disewa pergi ke Sentul, Bogor, menyaksikan Konser Leo Kristi bersama kawan-kawan Studio Hanafi.

Sampai jumpa. Selamat sepertiga malam..
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com