Wednesday, 20 June 2012

#66 To Do List




  • Melukis, sketching, presentasi
  • Menulis, utamanya novel saya, "Ensin", yang tak kunjung selesai. Mbak Nukila Amal, Mas Zen Hae mendukung saya untuk mengikuti "Sayembara Menulis Novel - Dewan Kesenian Jakarta 2012". Utamanya Bunda Adinda, beliau 'menuntut' saya untuk cepat menyelesaikan novel itu... Hemmm... 
  • Persiapan perform musik Leo Kristi: kawan-kawan kecil Studio Hanafi
  • Persiapan distribusi buku cerita anak "Mirah Mini" karya Mbak Nukila Amal & Mas Hanafi
  • Persiapan workshop anak: menulis - Mbak Nukila, melukis - Mas Hanafi, dan membuat keramik - Keng Sien
  • Persiapan preview & pameran lukisan "Mirah Mini" karya Mas Hanafi
  • Persiapan Residensi Masyarakat Indonesia Cipta - 20 Seniman Muda dari Kawasan Timur Indonesia
  • .........(akan muncul lagi yang lainnya) :))
  • Ikhtiar. Bermain. Tertawa. Bermimpi. Berdo'a. Amiiin

Friday, 15 June 2012

#64 Daerah Perbatasan - Soebagio Sastrowardoyo

Daerah Perbatasan -  Subagio Sastrowardoyo

I

Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan : Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi.

Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia, Juga kehormatan bagi manusia dan keturunan. Atau kita menyerah saja kepada kehinaan dan hidup tak berarti.

Lebih baik mati. Mati lebih mulia dan kekal daripada seribu tahun terbelenggu dalam penyesalan. Karena itu kita tetap di pos penjagaan atau menyusup di lorong-lorong kota pedalaman dengan pestol di pinggang dan bedil di tangan.

(Sepagi tadi sudah jatuh korban.) Hidup menuntut pertaruhan, dan kematian hanya menjamin kita menang. Tetapkan hati. Tak boleh lagi ada kebimbangan di tengah kelaliman terus mengancam. Taruhannya hanya ati.

II

Kita telah banyak kehilangan waktu dan harta, kenangan dan teman setia selama perjuangan ini. Apa yang kita capai : Kemerdekaan buat bangsa, harga diri dan hilangnya ketakutan kepada kesulitan.

Kita telah tahu apa artinya menderita di tengah kelaparan dan putus asa. Kematian hanya tantangan terakhir yang sedia kita hadapi demi kemenangan ini.

Percayalah :

Buat kebahagiaan bersama tak ada korban yang cukup berharga. Tapi dalam kebebasan ini masih tinggal keresahan yang tak kunjung berhenti : apa yang menanti di hari esok : kedamaian atau pembunuhan lagi.

Begitu banyak kita mengalami kegagalan dalam membangun hari depan : pendidikan tak selesai, cita-cita pribadi hancur dalam kekalahan bertempur, cinta yang putus hanya oleh hilangnya pertalian.

Tak ada yang terus bisa berlangsung.

Tak ada kepastian yang bertahan.

Kita telah kehilangan kepercayaan kepada keabadian. Semua hanya sementara : cinta kita, kesetiaan kita. Kita hidup di tengah kesementaraan segala. Di luar rumah terus menunggu seekor srigala.  
III
*bersambung (kebetulan saya akan pergi).



#63 Kau Ini Bagaimana? - Gus Mus

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya.
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir, kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak, kau curigai.
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja, kau waspadai.
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip, kau tuduh aku kaku.
Kau suruh aku toleran, aku toleran, kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju, kau serimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja, kau ganggu aku.
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain
Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun, kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung, kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah, kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap “wallahua’lam bisshawab”
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur, kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar, kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara, kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam, kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik, kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau
Kau tidak mau
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku
Kau ini bagaimana?

Atau…
Aku harus bagaimana…?

Gus Mus - 1987

Saya pernah musikalisasi puisi ini beberapa kali. Saya rindu masa-masa itu. Berkumpul bersama kawan-kawan di kampus, berlama-lama saling bicara dan canda. Berkegiatan tidak jauh dari kesenian dan kekeluargaan. Mengenal satu-sama lain.

Ada kala saya tidak genah dengan keadaan sekitar saya, berkumpul tanpa tema yang jelas selain hahahihi belaka. Tapi, saya berusaha tetap bersama udara yang ada, tidak baik juga rasanya menghilangkan diri dari ruang dimana kita ada di dalamnya. Serta-merta saya kompromi dengan diri sendiri agar tidak terlalu kaku & serius menghadapi keseharian.



Seperti juga puisi Gus Mus di atas. Saya menyukainya karena banyak pertanyaaan yang harus muncul dan sebetulnya banyak juga jawaban yang akan lahir perihal keadaan diri dan sekitar. Harus selalu ada diskusi, sekedar di atas permukaan ataupun penyelaman ke dalam.

Thursday, 14 June 2012

#62 The New Beginning


Banyak keinginan yang umurnya harus panjang.

Jadi seniman tari/penari.......
Hemm.. Tubuh saya terlalu mini, renta dan kurang memadai.

Jadi seniman musik/musisi...
Ada rasa trauma mendalam. Sangat!

Jadi seniman film/sineas......
Ada rasa trauma mendalam dan modal yang tidak sedikit

Jadi seniman sastra/penulis.......
Selalu dijalani meski kebanyakan tulisan itu hanya konsumsi sendiri.

Jadi seniman teater/teaterawan...
Selalu dijalani tapi tidak diniatkan sebagai profesi

Jadi seniman rupa/pelukis.........
Masih mentah tapi selalu dijalani. Diniatkan sebagai profesi.

PS: Harus diakui. Mungkin saya sedang jatuh (cinta).

Wednesday, 13 June 2012

#61 Presentasi Lukisan Saya yang Pertama kepada Mas Hanafi

Di catatan saya sebelumnya, saya pernah berjanji untuk upload beberapa coret-coret saya. Menyenangkan sekali ternyata, melukis, sketching, coret-coret, lalu setelah terkumpul beberapa banyak, saya presentasi/preview kepada Mas Hanafi. Sebetulnya ada sekitar 80 karya (saya lupa jumlah persisnya-padahal karya saya sendiri-hemmm....), yang saya presentasikan kepada Mas Hanafi saat itu, lalu hanya ada 6 karya terpilih (berikut yang judulnya saya tulis dengan huruf KAPITAL) dan beberapa karya yang sengaja saya dahulukan karena nilainya C menurut Mas Hanafi. Hahaha. Menyenangkan sekali, kawan! :)

Selasa siang lalu, saya, gigin, gaby, dan mimi pergi ke danau di daerah Cinangka, Sawangan, juga untuk sketching. Setibanya Mas Hanafi dan Bunda di Studio, beliau berdua baru datang dari daerah Kemang untuk suatu pertemuan, mendadak Mas Hanafi meminta kami ber-empat untuk preview/presentasi hasil -hasil sketching. Banyak cerita di ruang makan itu. Cerita bersambung di memo saya lain kali ya, kawan. :)

Dunia dikupas helai demi helai. Lukisan demi lukisan... Tentulah disertai dengan kelahiran banyak hal: pandangan-pandangan melalui abstraksi yang saya tampilkan, teknik melihat dunia dan mengisahkannya lewat warna, kuas, media. Namun yang paling meninggalkan kesan di dalam diri saya adalah kelahiran-kelahiran baru. Ya, kesenian selalu melahirkan anak-anaknya dengan berat yang tidak tak seimbang: keinginan-keinginan membuat sesuatu dengan tulus dan bersungguh-sungguh. Keinginan-keinginan juga dianugrahi sama seperti yang hidup: umur yang panjang dan yang pendek.

*Saya belum sempat memberikan kuratorial saya sendiri tentang lukisan-lukisan berikut karena koneksi internet sedang mirip kura-kura menarik pesawat, membuat saya jengkel lebih dulu sebelum menulis.
*Seluruh lukisan berikut (yang horizontal maupun yang vertikal) menggunakan acrylic di atas kertas ukuran A3 (29,7 cm x 42 cm)
Celah #1

Celah #2

Celah #3

Celah #4

Celah #5

INHALE #1

INHALE  #2

INHALE  #3

INHALE  #4

INHALE  #5

INHALE  #6

Kunci #1

Kunci #2

Kursi Itu Terbalik

Stereo #1

Stereo #2

Stereo #3

Stereo #4

Stereo #5

Stereo #6

Stereo #7

Tabung TV #1

Tabung TV #2

Tabung TV #3

Tabung TV #4

Tabung TV #5
Begitulah, kawan. Ini semua adalah beberapa soret-coret dan preview perdana saya kepada Mas Hanafi. Sekali lagi saya katakan karena ini betul-betul menyenangkan: "Ini menyenangkan! :)))
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com