Saturday, 30 May 2015

Pindah! #1

Setahun lewat sudah. Kalau kamu masih belum percaya pada tenaga mimpi dan restu orang tua, mudah-mudahan secepatnya diberi hidayah. Coba cari di toko-toko buku bekas, pasti ada kok itu hidayah. Nah lho. Krik-krik kan?

Iya. Setahun lewat sudah. Tanggal 2 April tahun lalu, saya tiba di Narita. Bandara, yang sejak kecil hingga saya bekerja di perusahaan kertas--terbesar se-Asia Tenggara, katanya--hanya mimpi belaka. Seperti pepatah Sunda, cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, yang berarti tetesan air yang menjatuhi batu, akhirnya akan melubangi batu itu. Bahkan, lebih jauh dari itu: terbelahlah batu, terkuaklah ternyata seperti apa rupa udang dari balik sana. Sama saja. Udang dimana-mana sama saja: bengkok.
Kiri: Nanda kanan: David
Tapi ini bukan artikel berita yang bahasannya cenderung bercanda, yang biasanya kita baca di internet tentang udang, "Asep mah gitu orangnya" (dear journalist, r u f**king kidding me), batu, tetesan air, dan pepatah Sunda. Hidayah? Apalagi! Ini tentang riwayat. Riwayat saya, yang lahir dan besar di Serang, Banten. Sebentar di Tanjung Priok. Beberapa bentar di Jatinangor dan Bandung. Oh, Tuhan! 5 tahun bukan beberapa bentar untuk kampung magis dan penuh cerita (Cinta? Hah!) seperti Jatinangor. Untuk kaum yang mudah-mudahan masih disebut sebagai mahasiswa, dan yang pernah menjadi mahasiswa di Kawasan Pendidikan Jatinangor, pasti mudah paham. Bagi yang belum paham dengan Jatinangor, perlu dicamkan, Jatinangor lebih viral daripada negara semaju Jepang. 

Ini tentang keseharian saja. Seperti nikki bahasa Jepangnya. 

Ketika menulis kalimat ini, waktu menunjukkan 03.56 di kawasan Fuji, Shizuoka. Kali lain saya menulis lagi. Maaf, teman. Selamat dini hari. Salam mimpi!

Sunday, 24 May 2015

Resensi Film: Twilight Sasara Saya (Twilight: Saya In Sasara/Senja Saya di Sasara)

*Gambar di ambil dari sini: url

Sutradara      : Yoshihiro Fukagawa
Penulis           : Tomoko Kano (novel), Yukiko Yamamuro, Yoshihiro Fukagawa
Produser        : Yoichi Arishige, Yuichi Shibahara, Megumi Hoshino, Daisuke Kadoya, Keizo Yuri, Ken Honma, Yoshio Nakayama
Aktor              : Yui Aragaki, Yo Oizumi, Aoi Nakamura, Rila Fukushima, Takeshi Tsuruno, Kuriko Namino, Yumiko Fujita, Masao Komatsu, Ryo Ishibashi, Sumiko Fuji.                     
Tanggal Rilis  : 8 November 2014
Durasi             : 114 menit
Genre              : Drama/Fantasi
Distributor     : Warner Bros


Film yang diadaptasi dari novel Tomoko Kano, “Sasara Saya”, ini bercerita tentang pasangan Saya, perempuan yatim piatu, dan Yutaro, seorang amatir Rakugo yang membosankan. Tidak begitu lama setelah pernikahan mereka, Yusuke lahir. Namun, Saya kemudian harus menghidupi Yusuke sendirian karena nasib tak berpihak baik, Yutaro mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Awalnya, seperti kebanyakan orang yang tak percaya pada yang gaib, Saya sulit memercayai bahwa orang yang berbicara dengannya adalah mendiang suaminya sendiri.           Namun untuk melindungi agar Yusuke tidak diasuh oleh kakeknya, Ayah dari Yutaro, Saya harus memercayainya. Ia memutuskan pindah ke Sasara, bernegosiasi dengan kekalutan dan kebingungannya, memulai hidup baru dengan segala kekhasan Sasara, membesarkan Yusuke sendirian.
Karena kekhawatirannya pada Saya, Yutaro dalam bentuk ‘lain’, memilih tinggal sementara di dunia. Konflik cerita berkembang sejak kematiannya. Agar dapat berbicara dengan Saya, Ia harus merasuki tubuh manusia yang masih hidup. Proses ‘memakai’ tubuh manusia ini juga menjadi kelucuan tersendiri di dalam film. Ditambah dialek Kansai yang diucapkan Yutaro, membuatnya menarik.
Ayah dari Yutaro adalah pekerja kontraktor yang mengharuskannya bekerja di lokasi yang berjauhan dengan anak dan istrinya dalam waktu yang lama. Dengan kondisi yang seperti itu, Yutaro mengesani bahwa Ayah telah mengabaikan istri dan anaknya sendiri. Ketika istrinya meninggalpun, Ayah tak bersamanya. Yutaro jadi begitu membencinya sejak itu. Kebencian Yutaro begitu dalam sehingga ia tak ingin sama sekali berakhir menjadi lelaki seperti Ayahnya.
Yutaro tak ingin meninggalkan Saya dan Yusuke. Betapapun juga, seorang Ayah tak akan sampai hati mengabaikan orang yang paling dicintainya, keluarganya. Siapa di dunia akan meninggalkan orang yang dicintainya?
“Jangan membicarakan hal yang menyedihkan. Bertemu denganmu dan dikaruniai anak, adalah kebahagiaan untukku. Dan jangan pernah berpikir seperti ‘aku berharap tak pernah dilahirkan’,” – Saya
Film ini menyajikan interaksi para tokoh yang alami. Meskipun sinematografinya sederhana, kecuali pada adegan kecelakaan, kita tetap bisa berkunjung ke pedesaan di Jepang yang sesuai dengan kondisinya saat ini. Mengusung hal gaib tanpa memberi kesan menyeramkan, namun dengan jenaka. Dikemas dengan kedalaman rasa khas film drama, tapi tidak over drama. Beberapa para tokoh yang bukan sentral pun memiliki karakter kuat khas pedesaan Jepang yang kebanyakan penghuninya orang-orang tua unik. Saling menyimpan rahasia satu sama lain, namun ada kesepian di dalam dirinya. Keinginan saling jujur pada perasaan dan juga butuh perhatian satu sama lain, tapi malu untuk mengungkapkan. Ada rahasia yang memang harus terus disimpan. Tetapi ada pula yang harus segera dibicarakan agar kita sama-sama tak salah paham. 


 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com