Tuesday, 9 June 2015

Pindah #2

Mata-mata yang kegelapan
Sebab ia tak bisa berjalan
Tiba-tiba saya merasa rindu sekali pada tawamu yang lepas

Hujan!



Bayangan saya sebelum datang ke negara ini, seperti kamu pada umumnya. Negara ini: bersih; serba canggih; memiliki penduduk yang cerdas di atas rata-rata, disiplin, tepat waktu, dan giat; saling menghargai satu sama lain; dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan bayangan itu, tetapi…

Hal paling dasar dari media ialah menyampaikan sesuatu. Dari kecil, kita terbiasa mendengarkan. Kita tidak begitu akrab dengan membantah apa yang disampaikan orang lain kepada kita. Atau, bila menggunakan kata yang lebih lembut, kita jarang sekali merespon dengan lantang atas apa yang kita dengarkan dari orang lain. Kita adalah penurut-penurut yang setia. Berdiskusi apalagi.

Dari apa yang kita dengarkan, belum tentu kita dapat merasakan apa yang betul-betul terjadi pada kenyataannya. Begitulah Jepang. Begitulah Indonesia. Begitulah Prancis. Begitu pula, negara-negara lain. Dimanapun kita berada, disitulah kenyataan. Di tempat lain yang pernah kita kunjungi sekalipun, akan selalu ada perubahan yang terjadi. Kenyataan yang terjadi tidak akan dapat sepenuhnya kita rasakan kecuali kita berada langsung di tempat tersebut. Maka dengan mendengarkan saja, membaca (bacaan tanpa fakta seperti berita-berita copas atau opini ngawur yang selalu marak di media sosial) saja, hanya opini belaka yang sebetulnya kita dapat.

Saya tidak bisa menceritakan Jepang versi teman saya yang bisa bekerja di Jepang tanpa mampu berbahasa Jepang sama sekali, versi Perdana Menteri Abe, atau versi Haruki Murakami. Yang saya ceritakan adalah Jepang versi saya. Tapi salah satu yang saya dapatkan di Jepang ialah orisinalitas. Memang bila dilihat dari sejarahnya, Jepang setelah Restorasi Meiji sekitar tahun 1866 membentuk kepribadiannya dari negara-negara luar. Saya tak bisa membayangkan, berapa banyak lini di negara ini yang berasal dari jiplakan kebudayaan negara luar.

 Foto ini diambil sekitar awal musim gugur tahun lalu saat undou taikai atau acara lomba olahraga yang diadakan sekolah.
Saat liburan, kaca mata hitam jangan sampai ketinggalan. Penting.

Mulanya
kita meniru cara Ibu mencuci pakaian
kita menyalin tanda tangan Ayah

Disini juga ada yang terlambat datang kerja. Disini juga ada yang putus sekolah. Disini juga ada yang tak menghargai orang, buang sampah sembarangan, tidak bisa membaca kanji, dan lain-lain.

Tapi darimana orisinalitas itu berasal? Di luar dari apa yang kita tahu dari media, bagaimana Jepang bisa menjadi negara seperti sekarang?

“Bad artists copy. Good Artists steal.” – Picasso.

Ini mudah-mudahan bisa jadi pembuka tulisan saya atas permintaan salah satu sahabat terbaik, Yoga Hastyadi, di sebuah halaman #butuhlibur, dan mudah-mudahan bisa melepaskan kekang yang ada di dalam.

Karena liburan berarti bahwa kita melepaskan segalanya
dan membawa kembali apa yang telah kita lepaskan

Sunday, 7 June 2015

Resensi Film - The Tree

Gambar di ambil dari sini

Sutradara      : Julie Bertucceli
Penulis           : Judy Pasco (novel), Julie Bertucceli
Produser        : Sue Taylor, Yael Fogil, Laetitia Gonzalez
Aktor              : Charlotte Gainsbourg, Aden Young, Marton Csokas, Morgana Davies, Christian Byers, Tom Russel, Gabriel Gotting         
Tanggal Rilis  : 23 Mei 2010 (Cannes)
                        11 Agustus 2010 (Prancis)
                        30 September (Australia)
Durasi             : 110 menit
Distributor     : Zeitgeist Film (US), Le Pecte (Prancis), Transmissions Films (Australia)
Official site    disini

Saya menonton film ini sampai mengulang 3 kali.
Di awal film, saya sudah dikejutkan. Seumur hidup, saya belum pernah melihat ada rumah yang bisa diangkut menggunakan truk container. Tinggallah Dawn dan Peter bersama 4 orang anaknya di kampung kecil di Australia, di rumah tersebut. Di halaman rumah mereka, berdiri sebuah pohon raksasa, Moreton Bay Fig (Ficus macrophylla). Saya kira, film ini akan menyenangkan hati saya karena sudah ada bayangan tentang halaman luas, pohon besar, dan anak-anak kecil. Namun, Peter meninggal di waktu yang tak siapapun bisa menduga. Bayangan saya salah. Film ini begitu curang. Merenggut kebahagiaan sebuah keluarga cepat sekali.
            Dawn begitu terpukul. Ia menangis berhari-hari, menjadi pemurung dan pemarah. Balita Lou tak kunjung bicara. Simone menceritakan suatu rahasia pada Dawn, bahwa di pohon Fig itu, ayahnya ada dan bisa berbicara. Siapa yang akan percaya?
             Di tengah hari-hari yang terputus-putus itu, Dawn bertemu George. Simone merasa kehadiran George sebagai ancaman baginya, keluarganya, dan pohon—ayah—nya. Namun di lain sisi, pohon itu juga merusak pagar tetangga, ‘mencuri’ persediaan air rumah, merusak rumah mereka sedikit demi sedikit. 
Mungkin saja ada yang menganggap film ini membosankan karena tidak sesuai dengan harapannya atau genre film kesukaannya. Perlu kesabaran dan rasa ingin paham yang agak ekstra untuk menonton film yang melelahkan ini. Soal yang diangkat film ini ialah yang tabu dan yang kerap menyeret jati diri kita ke tempat tak bernama. Disaat kita masih butuh waktu berkabung atas meninggalnya orang yang paling dekat dengan kita, dunia seperti tak mau diam dan mengerti. Ketika kita mesti merelakan perpisahan dengan seseorang yang begitu berharga,  namun di saat yang sama kita juga kehilangan diri sendiri. Seperti berjalan membawa air dengan tangan yang telanjang ke tempat dimana kita boleh meminumnya. Kurang ajar.
Bahwa mencapai ‘cukup’ akan sulit jika sebelumnya kita masih membawa harapan. Ini bukan berarti saya menganjurkan untuk berhenti berharap saat ini juga. Justru dengan begitu, saya menganggap bahwa untuk menonton film ini baik sekali jika jangan mengharapkan apa-apa sebelum menontonnya. Kalaupun masih merasa belum cukup, coba saja cari novelnya. J
         Film ini diproduksi atas kerja sama antara Australia-Prancis yang diadaptasi dari novel “Our Father Who Art In The Tree” karya Judy Pasco, seorang penulis dan aktor. Film yang berlokasi di desa kecil Boonah, Queensland, Australia ini membongkar rahasia bahwa ketika kita sedang bersedih, kita lalu cenderung menghadapinya dengan imajinasi, menyatakan imajinasi sebagai perlawanan kita pada kesakitan  dalam hidup yang, mau tak mau, harus dijalani.


Harus dijalani dan tetap bersama.
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com