Saturday, 25 July 2015

Mijika #6

Katakanlah ini pembunuhan. Aku makan dengan caraku. Aku minum dengan caraku. Aku bicara dengan caraku. Aku melakukan apa saja dengan semua caraku. Tapi disini aku akan mati karena aku kehilangan cara berbuat. Cara berpikir dan melihat! Kebebasan sebetulnya penjara karet. Kemanapun kamu pergi, ia juga pergi menjalari. Di angkasa, kantung-kantung plastik bermekaran. Kamu ambil itu sebagai sajadah atau langit atau awan, itu semua terserah caramu. Selama kamu masih punya cara, kamu akan tetap hidup. Selama itu!

Mijika #5

困る bisa berarti kesusahan atau masalah, atau padanan lainnya mungkin lebih dekat kepada 'to be in trouble' dalam bahasa Inggris. Suatu saat jika 木 (pohon) terbelenggu dalam 口 (lubang), akan ada jarak yang entah siapa pernah memohonkannya. Mulanya celah renik, sebelah membelah, seberang melembah, merenggang jurang, dan dengan tujuan yang (padahal) searah, kita mulai menikmati hidup berselisih! Gula Jawa dan Apel Fuji hambar rasanya jika tak dibagi pada tetangga. Adakah tetangga sekarang di tempatnya? Sesaat teringat tetangga yang lain lagi yang sedang berangkat memancing itu. Baru berapa menit yang lalu ia pergi. Kamu lagi-lagi lupa menanyakan kabarnya. Jangan berlagak peduli. Kali ini dia ingin sendirian. Tak ingin bersamamu, apalagi Pak Lurah. Umpan yang ia bawa seperti, sisa-sisa ranjang masa kecilnya. "Aku hanya ingin makan ikan coklat di Belgia!"

Mijika #4

Namamu mulai dipanggil. Mungkin kamu yang bertanggung jawab atas ini semua. Ditengah sungai, melintang tiga cerobong asap pabrik. Anak-anak menyambutnya girang. Mereka menjilatinya seperti permen hadiah paman yang baru pulang dari kota. Tapi warnanya pucat! Seperti tusuk konde.
Seorang dari mereka menyelam ke dasar sungai seperti ingin menikmati permennya sendirian. Ah, ada-ada saja anak-anak. Ah, ada mayat disana. 

Mijika #3

Awan gelap mengapung. Dari baliknya dua orang sedang kebingungan. Mereka kini jarang mendengar suara-suara lilin dinyalakan. Suara tabuhan kulit juga sudah tak terdengar. Mereka ingin sepasang telinga dengan sayap. Sewindu atau sehari, demi mendengarkan!

Mijika #2

Jatuhlah hujan pada daun. Tak mampu angin diminta mengarah kemana. Tak perlu jatuh jika belum masuk musimnya. Prakiraan cuaca di televisi sudah lama salah sangka. Mereka menyangkut entah di satelit mana. Pembebasannya yang melilit-lilit. Masih seperempat dari kampung di dunia kabarnya.  Belum lagi kota, megakota dan seterusnya. Takdir tuan-nyonya pemalas yang selalu menang lotere. Pertanyaan-pertanyaan yang dikatakan tak lebih bijak dari "Bagaimana caranya?" Seribu daun, seribu hujan, empat musim, dalam sehari saja. Oh larisnya! Tak ada cara. Jalan terus saja!

Thursday, 23 July 2015

Mijika #1

Perempuan itu menyeretnya kemanapun pergi. Di tikungan ke sebelas, ia menyaksikan seorang tua dilempari  macam-macam besi rongsok. Tak perlu investigasi lebih lanjut tentang kasus ini. Jika ingin, lakukan sendiri. Polisi sibuk menata lampu hias dan bendera. Ia berhenti dan memungutnya. Lalu menyeretnya lagi. Di tikungan ke dua belas ia melihat seorang anak menyulam kepalanya dengan sedotan. Ia agak ragu menyeretnya. Dia berjalan lagi. Dunia lebih sepi dari biasanya. Jerat yang baru ini muda sekali!
 
 
Copyright © memo . art . a . pradja
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com